Kawasan Reboisasi Kurubhoko Dibakar, Pelakunya Tidak Pantas Hidup di Muka Bumi

oleh -819 views
Lebih dari 30 hektare lahan di kawasan reboisasi Yayasan Puge Figo di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, hangus terbakar.

BAJAWA, suluhdesa.com – Pegiat literasi Ngada mengecam tindakan membakar hutan di Kabupaten itu. Kebakaran terjadi Hanya berselang dua hari setelah kaum milenial menyerukan menolak membakar hutan, lebih dari 30 hektare lahan di kawasan reboisasi Yayasan Puge Figo di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, hangus terbakar.

Sebelumnya, kaum milenial dari SMPN 1 Bajawa menyerukan kepada sesama milenial dan semua pihak menolak tindakan membakar hutan, yang menyebabkan kekeringan dan merusak ekosistem. Seruan itu berlangsung, Kamis (29/08/2019) di Wolo Nelu kawasan Nangge Mba’a, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, NTT.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/08/30/gelar-literasi-ekologi-siswa-smpn-1-bajawa-ajak-kaum-milenial-tolak-kebiasaan-bakar-hutan/

Dua hari kemudian, Sabtu (31/01/2019) seseorang oknum yang tidak bertanggung jawab telah meluluhlantakan harapan banyak orang akan kelestarian kawasan itu dengan menyulut api.

Sekitar pukul 09.00 wita api membubung tinggi. Angin kencang dan hari panas segera melesatkan lidah api yang menggantang melahap ilalang, semak kering dan apa saja yang ada di depannya. Hanya waktu sejam sebagian bukit ludes dan berubah hitam. 

Kecemasan para penjaga api di kawasan reboisasi itu akhirnya menjadi kenyataan. Sejumlah penjaga api tak mampu mengendalikan jago merah meski sudah berjibaku dengan sarana pemadaman sederhana dan menyiram dengan air seadanya yang ada di sejumlah drum yang sudah ditampung pada musim hujan. Namun, air di empat drum itu juga tak cukup. 

“Itu pun hanya bisa siram di beberapa titik yang nyalanya kecil. Tapi api yang membubung tinggi tak bisa dipadamkan,” kata Aloysius petugas penjaga api.

Baca Juga:  HARDIKNAS 2020; Mengupayakan Pendidikan Ekologis

Api dengan mudah masuk areal reboisasi, kata penjaga api lainnya Rafael, karena  saat itu cuaca panas dan hembusan angin cukup kencang. Makanya ilaran berjarak delapan meter dilewati nyala api dengan mudah.

Menurut Rafael, titik api ada di pinggir jalan yang menghubungkan antara desa Nginamanu dan Ngimanu Selatan di kaki bukit. Rafael sendiri menduga seseorang yang sempat dia jumpai dari jarak agak jauh telah menyulut api. Namun dia tidak bisa memastikan karena tidak tertangkap tangan.

Hanya menurut Rafael, pada hari kejadian ada seorang pria paruh baya melewati jalan  membawa serta kawanan anjingnya, juga mambawa tombak/tempuling dengan menunggang kuda. Pria yang tak diketahui namanya itu mengatakan sedang melatih anjingnya untuk berburu ketika ditanya dari kejauhan. Menurut Rafael, pria ini beberapa hari kemudian sudah di lokasi lain di desa ini namun tak jelas tujuannya, padahal dia bukan warga desa dan kecamatan ini. Kehadirannya memang mencurigakan.

Bencana Tahunan

Pembina Yayasan Puge Figo, Nao Remond menyayangkan terjadinya kebakaran,  baik di kawasan reboisasi maupun di sekitarnya. Hal itu mencemaskannya terhadap sebagian kawasan yang luput dari kebakaran ini.

Nao Remon bersama Ketua Yayasan Puge Figo Emanuel Djomba, pada pertemuan internal, Senin (09/09/2019),  memberi spirit kepada para penjaga reboisasi agar tidak patah semangat. Dia minta meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga kawasan yang terluput, sehingga biaya reboisasi  yang sudah dibantu sponsor tidak sia-sia.

Baca Juga:  Bupati Nagekeo Ajak Orang Tua Berikan Hadiah Buku kepada Anak

Nao Remon sendiri juga menyayangkan karena lahan kebunnya sendiri hampir dua hektar di tempat terpisah juga tak luput dari kebakaran. 

Kebakaran di wilayah ini seperti wabah yang menyerang secara rutin setiap tahun. Biasanya menjelang musim berburu kebakaran akan selalu terjadi. Ini semacam modus agar saat berburu, ‘arena’ perburuan sudah bersih dan mudah beraksi tanpa hambatan hutan. Bulan Agustus dan September juga menjadi waktu amatan lokasi,  dan waktu untuk melatih anjing sebelum berburu. Karenanya waktu-waktu ini menjadi bencana bagi desa ini setiap tahun.

Ketua Yayasan Puge Figo, Emanuel Djomba, menghimbau agar semua pihak lebih peduli pada masalah lingkungan hidup yang terus menderita karena dirusak. Rusaknya ekosistem dan keringnya sumber-sumber mata air telah mengancam kehidupan secara serius.

Dikatakan, Sudah lama bumi hidup dalam lara. Biarkan bumi kembali tersenyum, sehingga anak cucu kita kelak diwarisi bumi yang ramah untuk kehidupan. Karena merusak alam/bumi sama artinya membunuh kehidupan. 

Kebakaran kawasan reoboisasi ini juga disayangkan Pastor Paroki Kurubhoko, P. Tobias Harman, OFM.  Pater Tobias menghimbau semua pihak agar menyadari bahwa hidup manusia sangat tergantung pada alam. Jika alam rusak maka rusaklah kehidupan itu sendiri.

Pater Tobias bahkan dalam berbagai kesempatan tak jemu-jemu menghimbau agar semua pihak terus  berupaya merawat bumi sebagai rumah bersama. Kepada para perusak alam termasuk yang membakar hutan dia minta agar menghentikan tindakan merusak ciptaan Allah.

Baca Juga:  Street Food Fiesta di Bali Sebagai Kreativitas Milenial

Mengecam

Terbakarnya lahan reboisasi Yayasan Puge Figo ditanggapi dua pegiat literasi Ngada, Bonefasius Zanda dan Ignasius Sabinus Satu (Uno). Mereka mengecam tindakan tidak bertanggung jawab pelaku pembakar hutan di kawasan Gunung Nangge Mba’a, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze.

Salah seorang pegiat Literasi Ngada, Bonefasius Zanda memgatakan, pelaku pembakar hutan itu sudah tak pantas hidup di bumi  ciptaan  Tuhan yang indah ini, dia merusak karya ciptaan Tuhan. Sebab membakar sama halnya dengan membunuh kehidupan generasi penerus. Alam yang indah yang seharusnya kita rawat demi keutuhan alam ciptaan serta keberlanjutan hidup para generasi, malah yang terjadi sebaliknya. 

“Kita mengutuk keras sikap-sikap destruktif itu dan bila perlu diusut oleh yang berwajib dan diproses secara hukum. Tindakan mereka sudah dikategorikan sebagai kejahatan yang luar biasa,” kata Boy.

Sementara Ignasius Sabinus Satu (Uno) juga menyayangkan kejadian kebakaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Uno, memang kecewa karena dua hari sebelumnya sempat naik ke bukit itu mendampingi para milenial yang juga siswanya dalam kegiatan literasi alam terbuka. Hal itu sebagai wujud kecintaan kaum milenial pada alam.

“Mereka adalah pemilik alam di masa kini dan ke depan. Jadi jangan renggut kehidupan generasi masa depan,” tegas Uno. (wil/wil)