Mengenal Upacara Mata Golo di Ngada dan Rangkaiannya

oleh -2.258 views
Etnis Ngadha di Kabupaten Ngada dengan salah satu tradisinya. (Foto milik Liputan 6)

BAJAWA, suluhdesa.com – Etnis Ngadha di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengenal dua jenis kematian manusia. Menurut Budayawan Ngada Yoseph Rawi,BA, dua jenis kematian itu adalah Mata Ade (mati wajar) dan Mata Golo (mati tidak wajar seperti dibunuh, jatuh pohon dan sebagainya).

Berbincang dengan Media Suluhdesa.Com beberapa waktu lalu di kediamannya di Bajawa, penulis novelet Kubur di Pantai Gersang ini menuturkan banyak hal tentang Mata Golo di kalangan orang Ngadha (Bajawa dan sekkitarnya).

Berikut ini intisari penuturan pria kelahiran Watu Inerie ini yang beberapa waktu lalu dianugerahi penghargaan sebagai Budayawan Nusantara oleh Presiden Joko Widodo.

Mata Golo adalah Kematian yang disebabkan oleh suatu kecelakaan, jadi bukan karena penyakit atau usia lanjut. Mata Golo sangat ditakuti dan upacara penguburan pun sangat menyeramkan serta biayanya sangat mahal.

Menurut kepercayaan masyarakat Ngadha, Mata Golo adalah Kematian karena kutukan Dewa atau siksaan leluhur dan kekuatan roh jahat yang disebut Nitu. Kutukan disebabkan karena suatu kesalahan, kejahatan yang tersembunyi atau pelanggaran berat terhadap adat dan kepercayaan. Penyebabnyaa itu disebutut “ Su’i Du’i“. Penyebab atau Su’i Du’i itu dicari kejelasannya melalui upacara tibo (upacara mencari tahu penyebabnya dengan bertanya kepada roh leluhur).

Baca Juga:  Politikus Bukan Binatang

Orang yang Mata Golo harus diupacarai yang disebut Keo Rado (upacara tolak bala).

Adapun tahap-tahap Keo Rado yang harus dilalui adalah sebagai berikut;

  1. Pa’i Tibo yakni upacara tibo yang dilaksanakan dua malam berturut-turut. Malam pertama mencari kesalahan atau kejahatan tersembunyi, pelanggaran adat atau upacara adat yang tidak dilaksanakan. Tibo adalah carang atau ranting bambu mentah yang didoakan atau dimantrai dengan meminta petunjuk Dewa dan arwah leluhur. Ini dilakukan oleh seorang tua adat yang disebut Ata Bhisa (orang pintar). Pada malam kedua upacara tibo dilaksanakan untuk menentukan siapa saja yang akan bertugas pada upacara inti Keo Rado.
  2. Upacara inti Keo Rado : Setelah dua malam melaksanakan upacara pai tibo dan menemukan penyebab kematian, maka dilaksanakan upacara inti Keo Rado pada malam ketiga.
Yoseph Rawi, BA

Tahap-tahap upacara inti Keo Rado adalah:
a. Bhe logo one dan logo ema yakni mengundang keluarga pihak mama dan pihak bapa dari yang Mata Golo.

b. Bhe Mae yakni mengundang arwah leluhur untuk hadir dalam upacara tersebut.

Baca Juga:  Pemerintah Kabupaten Ngada Bangun Jalan Baru di Kecamatan Inerie

c. Tane tobo muku yakni menguburkan batang pisang sebagai ganti mayat (yang sudah dikuburkan sebelum upacara). Umumnya upacara inti Keo Rado dibuat setelah mayat dikuburkan. Namun jika upacara itu ada mayat maka mayat itu dikuburkan.

d. Sega Ringa yakni upacara bakar kayu kesambi (lute Sabi) dan jenis kayu yang lain disebut Kaju Asa Lea atau kaju saruwalu saki. Dibakar di depan rumah dan harus tetap hidup sampai upacara selesai. Beberapa suku menebutnya Api Polo (Api Suanggi).

Baca Juga:  Gubernur NTT; Harus Bangkitkan Orang Bodoh Masuk Surga

e. Nea bhara pa yakni upacara pembuangan segala ranting bambu yang dipakai waktu Pai Tibo serta semua tulang daging dan sisa makanan. Ini sebagai simbol pembuangan semua sial dan kutukan.

f. Nea bhara po yakni upacara pembuangan ukuran tanduk kerbau yang telah diberi oleh Suanggi dan semua sisa-sisa upacara.

g. Wela Luli dan papa jawa wali yakni upacara pembalasan terhadap hewan atau tempat atau yang menyebabkan kematian orang tersebut. Lalu diadakan upacara perdamaian.

h. Se da Ze’e yakni menyingkirkan yang buruk, yang najis. Upacara pemulihan kembali, menolak bala agar keluarga tidak lagi ditimpa kematian tidak wajar atau Mata Golo. Upacara ini menjadi terakhir dan menutup seluruh proses upacara. (Agus G Thuru/Agus)