Mayat Yang Terlantar

oleh -382 views
Foto Ilustrasi dari https://pxhere.com

SASTRA, suluhdesa.com – Cerita pendek ini ditulis oleh Agust G Thuru. Jika ada nama, tokoh, tempat, peristiwa yang sama itu bukan kesengajaan. Ini adalah tulisan sastra yang berlatarkan budaya dan istiadat dari sebuah daerah. Selamat menikmati.

Suara burung hantu menggigit malam sunyi di kampung Lereng Gunung. Suara yang berulang-ulang. Lalu Emru, bangun dari tidurnya di tengah malam. Ia menghalau burung hantu yang seolah tak mau beranjak dari rimbunan daun beringin yang tumbuh di belakang rumah adat.

Emru menggenggam sebuah batu lalu melempar ke arah suara burung hantu di tengah kegelapan sambil berteriak.

“Polo, meu Gau ne’e da go’o” (Suanggi, pergi kau, cari saja orang lain).
Sesudah itu Emru masuk kembali ke rumah adat dan membaringkan tubuhnya. Tetapi burung hantu kembali mengeluarkan suara. Bahkan makin menjadi-jadi seperti sedang birahi. Seperti ia sedang haus dan ingin segera meneguk darah mangsanya.
“Kurang ajar betul kau. Pergi kau dari sini”, bentak Emru pada burung hantu itu.

Setelah itu malam di kampung Lereng Gunung menjadi hening. Malam gelap seolah menelan seluruh kampung dan rumah adat yang berderetan membentuk segi empat. Kampung yang di akhir Desember ramai dengan kegembiraan seisi kampung menggelar pesta adat Reba.

Warga kampung pun lelap dalam tidur malam di Januaru yang basah oleh guyuran hujan. Para perantau yang pulang untuk merayakan Reba sudah kembali ke tempat mereka mencari hidup. Orang kampung menyebut mereka mole go wae lina kuru nguza (mencari air bening rumput hijau), mencari rejeki di tanah rantau. Sebagian lagi sudah kembali ke kebun masing-masing.

Emru dan istri anaknya memang tinggal di kampung itu. Malam sebelum ia menghalau burung hantu ada beberapa sahabat karib yang duduk minum tuak sambil bicara tentang ilmu kebal bahkan ilmu terbang. Masing-masing membanggakan ilmu kebal diri yang dimilikinya.

Baca Juga:  Wagub NTT: Mengenakan Seragam Korpri Dibalut Kain Tenun Menunjukan Ciri NTT

Emru sebetulnya tak punya apa-apa, Tak punya ilmu hitam juga tak punya ilmu kebal atau ilmu terbang. Tetapi Emru yang kesehariannya dikenal humoris tak mau kalah.

“Saya punya ilmu 99 macam. Bahkan ketika leher saya digorok, saya akan hidup lagi.”

“Ah, yang benar Saja Eja”, ujar Pilba yang memang dikenal punya ilmu kebal.

“Jangankan digorok leher saya, dicincang tubuh saya pun, saya akan hidup lagi”, ujar Emru

“Kalau begitu besok kita buktikan”, ujar Albe sahabat Emru yang lain.

Sesungguhnya Emru hanya bercanda. Emru dikenal baik dengan semua orang dan taat menjalankan ibadah sesuai Iman Katolik. Semua orang kampung Lereng Gunung tahu Emru bukan orang yang “teke rasu” atau memiliki ilmu hitam.

Setelah minum-minum itu mereka bubar. Emru pun merendahkan tubuhnya di bheja one (satu bagian dari rumah adat). Tetapi malam itu ia tak bisa memejamkan mata. Suara burung hantu yang bagai birahi dari rerimbun pohon beringin terus mengganggu tidurnya.

Orang di kampung Lereng Gunung itu memiliki kepercayaan, burung hantu adalah media yang dipakai oleh para Suanggi untuk memberi tanda bahwa akan terjadi musibah. Tetapi soal suara burung hantu malam itu Emru menganggap biasa saja. Ia juga tidak menganggap sebagai suruhan Suanggi untuk membawa kabar buruk.

Fajar menyingsing menerpa atap rumah adat kampung Lereng Gunung yang terbuat dari alang-alang. Eske istri Emru yang sedang hamil delapan bulan anak keempat telah menyeduh segelas kopi asli Bajawa. Ia mempersilahkan Emru minum.

Baca Juga:  Sejarah Kota Bajawa di Ngada (Bagian Pertama)

“Minum dulu baru pergi ” tawar Eske ke suaminya Emru yang tampak sibuk mencari parang dan bergegas hendak pergi.

“Nanti pulang baru saya minum. Mereka sudah tunggu”

“Engkau mau ke mana” Tanya Eske.

“Nanti baru saya beritahu kalau sudah kembali nanti”

Lalu pagi itu Emru meninggalkan rumah. Ia pergi ke arah utara, ke arah kaki gunung. Ia membawa sebilah parang lengkap dengan sarungnya.

Di belakang kampung ia berpapasan dengan Lornge. Dan Lornge menyapanya.

“Ghili (teman) Emru mau kemana?

“Jalan-jalan”

“Seperti buru-buru”

“Yah, ada yang menunggu”. Dan Emru cepat berlalu.

Matahari pagi di kampung Lereng Gunung terus beranjak siang lalu ke sore dan senja. Malam pun menyelimut kampung Lereng Gunung. Tapi Emru tak juga pulang. Eske istrinya mulai gelisah. Ia menyampaikan kepada saudaranya Anle bahwa Emru yang pergi sejak pagi belum kembali lagi. Anle memutuskan malam itu mencari. Mereka mencari ke kebun dan Sumber mata air tetapi Emru tidak ditemukan. Mereka bertanya kepada keluarga Emru di kampung sebelah juga Emru tidak ada. Pencarian sampai pagi tak menemukan Emru.

Seorang pemuda melintas di depan rumah Eske. Dan Eske menyapanya.
“Anlo, engkau mau ke mana?”
” Saya mau cari kayu bakar di Leksar”
” Tolong liat-liat mungkin ada Emru di Sana. Coba cari dia di pondok”
” Oh, baik”

Anlo melangkah pergi menuju semak belukar di Leksar pinggir kebun masyarakat.Ada beberapa pondok. Anlo melihat di dalam pondok mungkin Emru tertidur karena mabuk tuak.Tapi Emru tak ditemukan.

Anlo pun kembali ke semak belukar. Ia mengumpulkan kayu bakar. Untuk mengikat ia mencari tali dari pohon waru. Anlo nemanjat pohon waru tersebut. Dari atas pohon waru itulah Anlo melihat sesosok mayat terbujur kaku bersimbah darah. Lehernya digorok nyaris putus. Mayat itu adalah Emru.

Baca Juga:  Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (3); Jejak Sekolah Rakyat Maghilewa

Maka gegerlah kampung-kampung di lereng gunung itu. Mereka berbondong-bondong datang ke Leksar untuk menyaksikan mayat Emru. Para hansip desa sibuk mengamankan lokasi. Remri seorang hansip desa dan Anle dengan menunggang kuda melaporkan penemuan mayat Emru di Leksar. Sekaligus juga menjemput polisi. Dengan menunggang kuda yang sama dua polisi tiba di Leksar persis saat matahari terbenam. Polisi melakukan olah TKP dan mewawancarai Eske istri Emru dan beberapa orang yang dipandang bisa menjadi saksi. Tengah malam baru mayat Emru dievakuasi ke kampung.

Jadi mayat Emru terlantar di semak belukar Leksar selama dua hari satu malam. Mayat Emru tidak bisa dimasukkan ke rumah adat karena kematiannya tidak wajar. Secara adat disebut mata golo (mati yang bukan karena penyakit. Bisa karena kecelakaan, korban pembunuhan, dan lain-lain). Upacara penguburan pun harus melalui upacara Keo Rado (upacara tolak bala).

Mayat Emru sudah dikuburkan. Tetapi hampir tiga tahun polisi tak mampu mengungkap motif pembunuhan. Apakah Emru bunuh diri atau dibunuh masih misteri.

Setelah tiga tahun polisi menciduk beberapa orang yang diduga pelaku pembunuhan. Namun setelah itu mereka dilepaskan karena tak cukup bukti. Kasusnya pun menguap atau dipetieskan. Sampai detik ini.

Mayat Emru benar-benar terlantar. Yah, terlantar di hutan Leksar dan terlantar di hutan hukum negeri ini. Peristiwa Januari 1983 itu sampai sekarang ditelantarkan. Sedangkan para terduga telah meninggal dunia. (*)

DENPASAR, 9 September 2019