Garam Dapur Dan Teknologi Pertanian

oleh -385 views
Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores- Ende)

OPINI, suluhdesa.com – Garam Dapur adalah sejenis mineral yang dapat membuat rasa asin. Biasanya garam dapur yang tersedia secara umum adalah Natrium Klorida (NaCl) yang dihasilkan oleh air laut. Garam dalam bentuk alaminya adalah mineral kristal. Garam sangat diperlukan tubuh, tetapi bila dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk tekanan darah tinggi. Selain itu garam juga digunakan untuk mengawetkan makanan dan sebagai bumbu. Untuk mencegah penyakit gondok, garam dapur juga sering ditambahi iodium.

Garam telah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Begitu pentingnya garam, sampai ada pepatah mengatakan “hambar bagaikan sayur tanpa garam”. Sebagai salah satu bumbu masak yang paling penting, garam selalu ditambahkan pada berbagai masakan. Selain menambah nikmat rasa masakan, rasa asin yang diberikan oleh garam juga dapat menggugah selera makan. Hal ini membutuhkan kreativitas dalam meracik menu makanan.  Sama seperti seorang pemasak meracik makanan maka ketika kita berbicara mengenai pengolahan hasil pertanian yang perlu diperhatikan dan yang dibutuhkan adalah penerapan teknologi.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi sudah sangat canggih. Dengan kecanggihan teknologi yang diciptakan manusia, menjadikan manusia menjadi tidak berdaya dalam mengejar kemajuan teknologi. Manusia bekerja hanya melalui ponsel pintar miliknya. Setiap saat kita membaca dan mendengarkan melalui berbagai media sosial. Infiltrasi teknologi pada seluruh struktur ekonomi berjalan cukup cepat dan mengagetkan, terutama sentuhan terhadap sektor keuangan dan perbankan. Pemanfaatan teknologi dipercaya dapat melipatgandakan keuntungan para penggunanya.

Lalu, bagaimana dengan sektor pertanian? Mungkin dalam kondisi eksisting sektor ini masih menjadi pengecualian. Sektor pertanian cenderung bernilai tambah kecil dan para tenaga kerjanya cenderung telah menua (mayoritas > 60 tahun). Struktur tenaga kerja yang kurang bertenaga tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sektor ini sulit melakukan perubahan dan inovasi radikal. Kebutuhan teknologi pada sektor pertanian tidak hanya pada sisi produksi, tetapi juga diperlukan pada sisi pengolahan dan pemasaran serta rekayasa produksi.

Dengan latar belakang yang kurang memadai, tampaknya penerapan teknologi akan sulit dilakukan dan dampaknya mungkin sangat terbatas. Faktor Sumber Daya Manusia  sendiri sangat berpengaruh pada perilaku dan efeknya juga menjalar pada gaya pengelolaan yang terlalu tradisional. Karena itu, hanya sentuhan teknologi dan berbagai bentuk insentif bersaing yang akan merangsang minat anak-anak muda dan inovasi untuk mewarnai sektor ini. Keberadaan sektor pertanian masih sangat penting terhadap pembangunan Indonesia.

Baca Juga:  Pemdes Jondong-Lampung Gelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Desa

Alasan yang pertama, sektor pertanian merupakan palang pintu ketahanan pangan.  Ketahanan pangan sendiri nanti akan berimplikasi positif pada kecukupan gizi dan kesejahteraan bagi penduduk di suatu wilayah. Peningkatan jumlah penduduk juga akan menuntut ketersediaan pangan yang kian meningkat sehingga produktivitas pertanian perlu dijaga untuk menjamin kualitas hidup yang lebih baik dan berimbang.

Kedua, pertanian merupakan ciri kultural Indonesia sebagai negara agraris, terutama di wilayah perdesaan. Anugerah Tuhan yang memberikan tanah yang subur patut kita syukuri dengan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan kemakmuran bangsa. 

Ketiga, pertanian merupakan ladang pekerjaan utama bagi mayoritas tenaga kerja di Indonesia. Kondisi ini terus berjalan selama beberapa dekade kendati tingkat persentasenya cenderung banyak mengalami penurunan. Akan tetapi, jumlah yang sangat besar tersebut kurang diikuti dengan pendapatan per kapita yang memadai. Akibatnya, shifting sektoral sulit dihindarkan serta para pekerja muda dan terdidik kurang berminat untuk berkecimpung di sektor pertanian karena penghasilan yang ditawarkan kurang bersaing untuk peningkatan kesejahteraan.

Peningkatan shifting tenaga kerja secara sektoral juga kurang diimbangi dengan adaptasi keterampilan. Banyak orang tua yang dahulunya bekerja di sektor pertanian yang menginginkan anak-anaknya berkreasi di sektor nonpertanian dengan harapan mereka akan mendapatkan penghasilan yang lebih menggiurkan.  Akan tetapi, tidak sedikit yang alpa untuk membekali putra-putrinya untuk memiliki keterampilan yang spesifik. Akibatnya, masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran terbuka khususnya untuk kalangan terdidik penyelesaiannya menjadi kian runyam.

Laju urbanisasi juga menjadi sulit terhindarkan karena peluang kerja yang terbatas, terutama di sektor nonpertanian yang menawarkan upah yang lebih baik. Lalu, bagaimana solusinya?

Pertama, sarana dan prasarana pertanian perlu diperbaiki, termasuk dengan menerapkan teknologi mutakhir yang dapat menunjang produktivitas. Saat ini pemangku kebijakan pertanian juga menghadapi tantangan jumlah lahan yang kian menyempit akibat konversi lahan yang semakin tak terbatas.

Pada umumnya alih fungsi lahan pertanian terjadi akibat peningkatan konstruksi perumahan, industri, dan pengembangan infrastruktur. Karena itu, rekayasa produksi perlu digenjot untuk menjaga produktivitas tetap tinggi. Selain itu, teknologi produksi juga perlu ditingkatkan untuk meminimalisasi kegagalan panen. 

Baca Juga:  Bonsai Kelapa Indonesia Korda Lampung Selatan Kalianda Warnai Rajabasa Expo 2019

Indonesia hendaknya dapat menerapkan Revolusi Pertanian 5.0 dengan mengakomodasi fungsi teknologi sebagai “asisten” petani. Hal ini dipandang perlu untuk dapat  menggunakan berbagai aplikasi untuk menjaga kualitas produksinya tetap baik seperti untuk mendeteksi kondisi lahan, tanaman, peternakan, dan cuaca. Selain itu,  dapat memanfaatkan teknologi untuk melakukan perawatan seperti irigasi, pemupukan, dan deteksi hama. Yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan sistem informasi untuk stok dan harga pangan yang sangat mendukung stabilitas pasokan dan harga serta nilai tukar petani . Masalah-masalah struktural inilah yang di negara kita belum banyak teratasi.

Kedua, Sumber Daya Manusia tenaga kerja. Tantangan Sumber Daya Manusia di sektor pertanian adalah skill yang terbatas karena faktor usia dan tingkat pendidikan. Dengan kondisi yang sekarang, kita perlu melakukan peremajaan dan pengembangan skill tenaga kerja, salah satunya melalui pendidikan/pelatihan yang berorientasi pada keterampilan praktik produksi (tidak sebatas pengetahuan). Untuk itu, sekolah vokasi dapat menjadi alternatif yang paling ideal untuk menggenjot tingkat keterampilan Sumber Daya Manusia di sektor pertanian.  Selain itu persoalan pengaturan legal formal, faktor kelembagaan berikutnya adalah keberadaan institusi yang mampu menaungi aktivitas pertanian dari hulu ke hilir. Contoh kasusnya adalah nilai jual produk pertanian yang merosot pada saat panen raya.

Kendati hal tersebut cukup lazim pada saat kita menggunakan hukum inflasi dari sisi suplai, kita seharusnya tidak membiarkan kejadian tersebut terus terulang hingga mematikan semangat petani untuk meningkatkan produktivitasnya. Pada saat panen raya kemungkinan excess supply memang akan sangat tinggi. Untuk itu, kita perlu memberikan sentuhan dengan menghidupkan aktivitas off-farm melalui industrialisasi pertanian (agroindustri). Stok hasil pertanian yang berlebih dapat diolah menjadi produk olahan, terutama pada komoditas yang daya tahannya tidak cukup panjangatau cepat rusak.

Dalam beberapa pengalaman, agroindustri ternyata mampu meningkatkan nilai tambah produk dan melahirkan lapangan pekerjaan tambahan terutama di wilayah perdesaan. Selain itu, juga mampu membatasi agar produk primer yang dihasilkan harganya tidak sampai anjlok. Yang kita butuhkah sekarang adalah institusi yang mampu menggerakkan pertanian dan ekonomi perdesaan agar dikelola secara lebih modern.

Baca Juga:  Menteri Desa Akan Datang Meninjau Desa-Desa di Malaka

Keberadaan badan usaha milik desa (BUMDes) mungkin yang paling dekat untuk saat ini karena regulasi yang mewajibkan setiap desa memiliki BUMDes. Eksistensi BUMDes di masa sekarang pun ditunjang dengan keberadaan dana desa maupun alokasi dana desa (ADD) yang rajin dikucurkan setiap tahun. Setelah dalam 3-4 tahun terakhir dana desa dan ADD lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan belanja aparatur desa, mungkin sudah waktunya sumber daya fiskal tersebut digunakan untuk ihwal yang lebih produktif, mulai dari pengembangan teknologi hingga pembangunan institusi yang kuat untuk menggerakkan perekonomian di desa. Namun dari dana tersebut, ternyata hanya sedikit yang bisa dirasakan oleh petani desa. Bahkan petani yang paling banyak berada di desa, belum menikmati dampak pembangunan desa yang berkaitan langsung dengan kesejahteraannya.

Sebagian penduduk Indonesia berdomisili di pedesaan dan sebagian besar adalah petani. Maka untuk itu, menggerakkan ekonomi petani di desa sebagai satu kesatuan antara pembangunan sektor pertanian dan sektor industri kecil diarahkan pada upaya pemberdayaan agroindustri dan usaha ekonomi mikro lainnya. Pengembangan agroindustri ini sekaligus akan dapat menyediakan lapangan kerja penduduk pedesaan. Kegiatan agroindustri tersebut akan meningkatkan nilai tambah dipedesaan, perluasan diversivikasi produksi produksi pedesaan, pendapatan petani dan mempercepat akumulasi kapital pedesaan.

Model pertanian masa depan ini harus diciptakan sehingga tidak menimbulkan deagrarianisasi. Deagrarianisasi merupakan satu bentuk hilangnya ketergantungan masyarakat petani di desa terhadap pertanian dan memilih bergantung terhadap kegiatan-kegiatan nonpertanian seperti jasa. Untuk meningkatkan kesejahteraan petanidi desa salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui klasterisasi usaha. kelasterisasi usaha ini dengan maksud usaha tani dikelompokkan berdasarkan produk tani yang dihasilkan. Dengan pengelompokan produk tani maka dapat memberikan solusi atas permasalahan pertanian yang dihadapi petani dalam upaya meningkatkan nilai tukar petani.

Upaya untukmelakukan inovasi produk pertanian, memodifikasi dan memperbaharui teknologi produksi, peningkatan volume produksi, pembangunan sumber daya Manusia, tentuh membutuhkan tambahan modal. Keterbatasan modal yang dimiliki dapat mengurangi peluang untuk menjadikan mereka lebih berdaya. Hal ini disebabkan rendahnya aksesibilitas agroindustri terhadap sumber pendapatan formal serta tingginya bunga bankbagi pengadaan fasilitas dan peralatan usaha.

Hal ini sesungguhnya dapat diatasi dengan pemanfaatan  dana desa. Dana desa dapat dikucurkan kepada para petani yang ingin mengembangkan usaha pertanian. Hal ini dapat dilaksanakan jika pemerintah desa menjadi pemegang saham dalam usaha sehingga dapat memanfaatkan BUMDes dalam menggembangkan usaha para petani di desa. (*)

Oleh : Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores- Ende