Nasib Perempuan NTT dan Pelecehan Seksual

oleh -573 views
Frater Ebith Lonek, CMF (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)

OPINI, suluhdesa.com – Dalam Surat Kabar Harian Pos Kupang (29/7/2019) terlihat segerombolan anak-anak memegang spanduk dengan tulisan “Total 563 anak menjadi korban kekerasan, dengan 222 anak korban pelecehan seksual, masihkah kita diam? Sebuah seruan yag sejatinya menggelitik hati dan logika masyarakat pada umumnya.

Jika anak-anak sadar akan eksistensi mereka yang terancam oleh para predator liar yang berkeliaran, masihkan kita yang seharusnya menjadi garda terdepan melidungi mereka berpangku tangan dan menyaksikan kepedihan ini? Atau masihkah kita yang seharusnya menjadi protektor malah menjadi predator yang buas bagi mereka?

Bila diikuti dengan baik dalam konten berita surat kabar di NTT atau media sosial lainnya bulan Juli menjadi bulan yang cukup intens menyajikan berita terkait pelecehan seksual. Bahkan konten berita yang disajikan seolah-olah memaksa logika manusia untuk memahami sesuatu yang secara kaca mata moral sangat memalukan dan memiluhkan. Adakah ini sebuah kebanggaan Provinsi seribu satu gereja ini? Apakah ini tema terhangat masyarakat NTT saat ini ataukah tema yang dihangatkan sebagai sebuah warning bagi masyarakat NTT dalam menghadapi industri 4.0?

Kasus pelecehan seksual yang sedang melanda NTT seolah memberikan seribu satu kata tanya dengan rumusan 5W+1H untuk masyarakat NTT! Dan jawaban harus diberikan oleh masyarakat NTT sendiri. Kasus demi kasus yang terjadi, seakan memberikan satu hipotesa mini bahwa masyarakat NTT (tidak semua) masih lemah bahkan gagal dalam menghidupi dalil-dalil moral yang diajarkan entah oleh keluarga, institusi religius, budaya, dan sekolah. Jika bertahun-tahun NTT bertahan dengan streotipe Provinsi termiskin, jangan sampai streotipe baru membebani pundak Provinsi ini yang sudah memasuki usia setengah abad lebih dengan streotipe yang semakin membuat Provinsi ini stagnan (berjalan ditempat) dalam menyongsong keterpurukan.

Jika anak-anak NTT khususnya perempuan merasa terancam bahkan sangat tidak at home dengan lingkungannya adalah sebuah kebenaran yang dipertahankan. Mereka merasa banyak serigala berbulu domba, yang mencicipi “rumput” seladang dengan mereka yang siap menerkam mereka. Bahkan “memalukan” banyak sebenarnya predator “bertopeng” protektor yang hidup bersama mereka, yang hanya sedang menanti saat yang tepat.

Ketakutan anak-anak perempuan NTT itu terbukti dengan rentetan kasus pelecehan seksual yang terjadi di NTT. Diliris oleh Pos Kupang secara eksluisif bahwa di Kota Kupang selama bulan Januari-Juni 2019 terdiri 11 kasus pencabulan dan 25 kasus persetubuhan. Di kabupaten Sumba Timur, periode Januari-Mei 2019 terjadi 50 kasus kekerasan terhadap anak, diantaranya 40 lebih kasus kekerasan seksual, mirisnya Sumba Timur menjadi Kabupaten di NTT yang menempati urutan pertama dalam maraknya kasus pelecehan seksual. Di Kabupaten Sikka, selama Januari-Juni ada 5 kasus pencabulan, Lembata,17 kasus dan Kabupaten Ngada, 8 kasus pemerkosaan (17/7/2019).

Baca Juga:  Memori di Kampung Watu

Hal ini belum dirampung dari Kabupaten lainnya. Intinya melihat sampel yang ada, kita boleh berasumsi NTT tengah mendiami zona merah dalam kasus pelecehan seksual. Masihkah kita diam? Dengan berkaca pada fenomena ini, apa yang harus dibuat? Jangan membebani kasus ini sebagai akibat dari kelalaian orangtua, ingat banyak protektor yang predator, ataupun ini sebagai kesalahan dari anak-anak? Masalah yang sedang melanda NTT adalah masalah bersama (masyarakat NTT). Harus diretas bersama, bukan bersama-sama mendiami atau sengaja didiamkan agar NTT tetap menjadi Provinsi seribu satu Gereja dengan banyak tulang-belualang yang sengaja dikuburkan di dekat “halaman” gereja.

Nasib Perempuan

Simone de Beauvoir seorang filsuf dan novelis Prancis (Simone Blackburn: 2013,91) dalam bukunya the second sex mengulas dengan baik mengenai nasib perempuan ketika diperhadapkan dengan fakta jenis klamin. The second sex adalah sebuah telaah eksistensialis dari asal-muasal perempuan, dan juga asal-muasal paham feminis dan proto-feminis (James Garvey:2010,309). Melalui buku ini de Beauvoir berhadapan dengan pertanyaan “Apa itu perempuan, dan pertanyaan ini menggiring sampai pada pertanyaan “mengapa perempuan itu berbeda?

 Dalam bagian pertama bukunya Beauvoir mengatakan perempuan tidak ditentukan oleh biologi, psikologi, atau ekonomi. Ia memperoleh sebuah tesis mini bahwa perempuan barangkali adalah yang paling diperbudak dan segala jenis perempuan menyusui, juga manusia perempuan adalah salah satu dari yang paling kuat bertahan dalam keadaan diperbudak (Garvey; 311). Ia juga membicarakan fakta subyek-obyek atas laki-laki dan perempuan. Ia katakan perempuan adalah mutlak lain, obyek yang tidak pernah menjadi subyek di mata lelaki. Walaupun Hegel membangun sebuah presepsi bahwa subyek, menjadi subyek, memerlukan yang lain, memerlukan untuk melihat dirinya sebagai subyek di mata subyek lain. Faktanya subyek yang kedua akan tetap menjadi obyek bagi yang pertama.

Baca Juga:  PGK Desak Polda NTT Copot Oknum Polisi yang Mengeroyok AM di Belu

Beauvoir menegaskan disamping kemajuan sosial, perempuan masih tetap ditaklukan oleh lelaki, perempuan masih melihat dirinya dan membuat pilihan tidak sesuai dengan asal-muasalnya, melainkan dari apa kata lelaki tentang mereka. Seorang perempuan masih, dalam sebagian besar kawasan, sebagai khayalan laki-laki.

Melihat fenomena pelecehan seksual yang tengah melanda NTT, kita bisa menarik sebuah hipotesa mini bahwa fenomena di atas adalah sebuah hasil akumulasi presepsi yang dibangun oleh para predator atas diri perempuan yakni hanya sebagai kelas sosial nomor dua, karena tubuh wanita itu lemah, status dan posisinya pun rendah, karena konvensi sosial dibangun atas diri mereka (Garvey; 314).

Dengan demikian jika berkaca pada pandangan Beauvoir, fenomena pelecehan seksual adalah sebuah penyimpangan bahkan kegagalan dalam persepsi yang dibangun oleh kaum lelaki (predator), yang selalu melihat perempuan sebagai obyek atas kepuasan seks. Jika ada bentuk teriakan protes dari kaum feminis bahwa mereka merasa tidak sebagai obyek, maka mengikuti presepsi Hegel, mereka adalah subyek kedua yang akan menjadi obyek bagi subyek pertama yakni lelaki. Karena bagi Beauvoir,bahwa perempuan pada umumnya tidak didefenisikan oleh tubuh dan pikiran semata, tetapi juga oleh peristiwa historis mereka, tempat mereka dalam ranah evolusi sosial, ekonomi dan teknologi yang dicapai spesies manusia.

NTT “Berjaga”

NTT “berjaga” adalah sebuah fakta imperatif yang seyogyanya harus didendangkan oleh masyarakat NTT dalam menyikapi kasus ini. Kasus ini bukan lagi hanya persoalan sebatas pihak korban dan pelaku ataupun atas pelaku dengan pihak berwajib. Namun masyarakat NTT harus”berjaga” atas fenomena ini. Berjaga dalam pengertian kasus ini adalah sebuah warning besar yakni masyarakat NTT harus berani mengambil langkaf prventif dalam menyikapi kasus ini. Jangan hanya menjadi penikmat konten berita pelecehan seksual semata. Harus ada zeal yang dibangun, yang membasis setiap usaha pembenahan moral.

NTT “berjaga” dapat juga diartikan sebagai satu seruan moralitas, agar kita bersama-sama meretas kasus tersebut. Dari pengamatan pihak berwajib, pengaruh medsos atas kasus ini sangat besar. Disorientasi dalam penggunaan medsos menjadi penyakit besar atas fenomena ini. Pada tataran ini, tidak bisa disalahkan penemu medsos atau medsos itu sendiri. Karena in se medsos adalah baik adanya bahkan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita, jika digunakan semestinya.

Baca Juga:  Kementan Ajak Masyarakat Bantu Kendalikan Kasus Kematian Babi di Bali dan NTT

Kedewasaan bermedsos sangat dituntut. Dalam konten berita yang disajikan, banyak modus pelecehan seksual terjadi karena setelah menonton video mesum atau konten negative lainnya. Akibatnya rasa ingin mencoba yang menggebu-gebu yang membawa mereka pada tindakan yang amoral. Bahkan menjadikan orang-orang terdekatnya sebagai obyek atas nafsunya. Lebih lanjut dikutip oleh Pos Kupang, tokoh agama Mery Kolimon mengatakan untuk mencegah kasus pencebulan, pendidikan nilai di dalam keluarga, sekolah, lembaga agama serta masyarakat menjadi sangat penting. Ini sangat penting dalam melindungi anak-anak dari paparan konten pornografi sebab akan merusak mental dan intelektual anak.

Menyikapi kasus di atas, peran kita semua menjadi pilihan utama, kita perlu membangun satu wawasan yang luas dalam bermedsos agar kita tidak menjadi budak dari pornografi. Konten pornografi bersifat adiktif yang dapat menggangu kinerja otak kita dan sangat berbahya bagi perkembangan dan pertumbuhan kita. Mengingat bahwa kasus ini banyak melibatkan anak-anak muda, maka kita sebagai anak-anak muda apalagi yang mencicipi asuapan akademis, perlu membangun sikap kritis-konstruktif dalam bergaul, bermedsos agar kita boleh menjadi orang-orang yang berada pada garis terdepan dalam meretas kasus ini.

Bagi orangtua menjadi pribadi yang bijak dalam mendidik anak-anak adalah pilihan terbaik, bukan mendidik dengan tangan besi yang membuat anak merasa dikekang dan mencari jalann sendiri untuk menjawab rasa ingin tahunya. Namun harus menjadi orang-orang yang tegas dalam prinsip namun santai dalam tindakan. Jiak kita semua dapat menjalankan peran kita sebagai mana mestinya, yakin dan percaya bahwa kasus ini akan dapat diretas dan diatasi, sebagai bentuk kecintaan kita akan masa depan para penerus bangsa ini. Jika penerus bangsa ini hancur masa depannya, kemanakah kita membawa bangsa atapun Provinsi ini? (*)

Oleh; Frater Ebith Lonek, CMF (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)