Literasi Adalah Kebutuhan: Memaknai Hari Literasi Internasional 2019

oleh -547 views
John Lobo - Penggagas Gerakan Katakan dengan Buku (GKdB)

OPINI, suluhdesa.com – Hemat saya, manusia pada hakikatnya adalah makluk pembelajar. Tanpa belajar, seyogianya manusia sedang mati sebelum saatnya. Untuk itu, label makhluk pembelajar yang melekat pada diri manusia harus dimaknai sebagai napas kehidupan yang menghidupi kita. Karena semuanya berbicara tentang kita. Oleh karena itu, membudayakan semangat literasi harus dimaknai sebagai kebutuhan bukan kewajiban. Itu berarti manusia harus memaknainya secara bijaksna bahwa keberadaan dirinya bukan untuk dirinya semata tapi untuk sesama dan lingkungannya.

Apalagi saat ini, kemajuan zaman telah menggampangkan segala sesuatu. Setiap orang lebih menyukai dunia gawai ketimbang baca buku. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Media online ANTARA News (16/7/2018) melansir berita bertajuk “Perbanyak baca buku jangan hanya internet”. Tajuk ini merupakan kutipan pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (PPPA) Yohana Susana Yembise. Hal ini ditegaskan Yohana dalam seminar Hari Anak Nasional 2018. Dalam seminar ini, Yohana menegaskan dua hal yang urgen yakni perbanyakan sikap untuk membudayakan mental melek membaca buku dan kurangi kebiasaan untuk mengakses internet.

Mengapa harus perbanyak baca buku?

Baca Juga:  Kawasan Reboisasi Kurubhoko Dibakar, Pelakunya Tidak Pantas Hidup di Muka Bumi

Ada satu pepatah tua yang mengatakan “buku adalah jendela dunia”. Itu artinya hanya dengan membaca buku kita bisa menguasai dunia. Tanpa membaca buku, kita akan ditelan kemajuan zaman. Hal ini sejalan dengan pernyataan, Menteri (PPPA) “Saya dulu tidak pakai internet, bisa jadi profesor karena membaca buku”. Menurutnya, salah satu dampak menurunnya minat baca terhadap buku adalah karena adanya internet. Padahal internet selain memiliki dampak positif tetapi dampak negatifnya adalah cahaya yang keluar dari layar gawai bisa merusak syaraf dan radiasinya masuk ke dalam otak, sehingga dapat merusak mata dan juga melemahnya sel otak.

Baca Juga:  Mahasiswa dan Seluruh Anak Muda NTT Harus Membaca Buku

Oleh karena itu salah satu langkah untuk membendung mental instant anak yang lebih memilih gawai ketimbang baca buku adalah orang tua, guru serta lingkungan sosial harus mampu membatasi kebebasan anak dengan memperbanyak buku bacaan. Dan salah satu gerakan di sekolah adalah membudayakan literasi 15 menit di pagi hari sebelum Kegiatan Belajar Mengajar.      

Bapak John Lobo adalah penggagas Gerakan Katakan Dengan Buku. Ditengah kemajuan zaman yang menghadirkan beraneka ragam sikap, mental, kebutuhan, mau tidak mau manusia harus mampu menghadapinya. Dengan harapan keanekaragaman itu harus mampu menghumaniskan manusia itu sendiri. Kerena tujuan hidup manusia adalah untuk Itu.

Kebutuhan akan ilmu adalah sebuah keniscayaan. Karenanya berbagai pendidikan, entah formal maupun nonformal terus dihidupi. Untuk Apa?  Ya lagi-lagi untuk menghumaniskan manusia agar menjadi pribadi-pribadi yang berbudi luhur. Hemat saya, yang melatar belakangi Bapak John untuk mengakari gerakan ini adalah bukan untuk kepentingan pribadi, golongan, kelompok dan bukan untuk memperkaya diri. Apalagi untuk supaya dikenal dan menjadi terkanal. Ya, saya kira bukan Itu. Tapi yang dicari adalah kebahagiaan batin.

Baca Juga:  Para Legislator Perempuan Harus Memperjuangkan Hak Perempuan Anak

Bapak John telah memaknai hidup ini secara bijaksana. Naluri dan kepekaan sosialnya yang tinggi telah menghantar dirinya pula untuk tak jemu dalam menggerakan literasi ke seluruh pelosok nusantara. Pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa Bapak John adalah seorang guru literat sejati yang telah membiarkan dirinya terpecah demi membangun budaya literasi bagi generasi penerus. Semoga perayaan hari literasi Internasional (8/9/2019) ini, semakin membangkitkan semangat kita semua dalam menggerakan literasi. Sebab tugas ini adalah tugas kita. Tentang kita dan generasi kita. Bukan tugas saya, anda, dia, kamu dan kalian.

Salam literasi, Salam GKdB.

Oleh Boy Zanda (Guru, Penulis, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis Bajawa)