Clarita Mawarni Salem “Keseleo” Lidah, Kita Yang Gagal Paham

oleh -1.516 views
Clarita Mawarni Salem, Putri Pariwisata Indonesia 2019 (Foto: Akurat.Co)

OPINI, suluhdesa.com – Akhir-akhir ini nama NTT harum semerbak senusantara. Pada perayaan 17 Agustus yang lalu, ibu Khalidah memperoleh penganugerahan sebagai pengguna busana tradisional terbaik – pada puncak perayaan bersejarah itu, ia mengenakan baju adat Rote.

Tak berhenti, NTT kembali merebut perhatian. Sarlin Jones dianugerahi sebagai Miss Grand Indonesia 2019. Prestasi pun terus mengalir ke NTT. Pada ajang pariwisata, Carlita Mawarni Salem, Putri Pariwisata NTT 2019, berhak mengenakan mahkota sebagai Putri Pariwisata Indonesia 2019.

Tentu tiga hawa ini mengharumkan nama NTT dalam pentas nasional secara beruntun. Menghantar NTT dalam pusaran “trending topic” di jagad maya. Di luar itu, perbincangan di lopo, panggung pesta dan dimana saja di ruang nyata. Betapa tidak! Tahun ini NTT “naik daun”. Tahun hokinya NTT. 

Namun, Carlina Mawarni Salem mengalami nasib yang berbeda jika dibandingkan dengan kedua wanita terdahulu, Khalidah dan Sarlin Jones,  sekalipun mahkota  Putri Pariwisata Indonesia 2019 terpasang di kepalanya. Pasalnya, pada sesi tanya jawab, gadis asal Timor Tengah Utara ini, sedikit ‘keseleo’ lidah ketika memberikan pernyataan “Danau Kelimutu berada di Labuan Bajo”.

Sebelum saya mengomentari lebih jauh peristiwa ini, saya mencoba untuk berpendapat tentang  kontes-kontes serupa yang ada di Indonesia. Bila mau jujur, kontes-kontes terkesan “rasis”, sadar atau tidak, kita praktekan dalam kehidupan nyata. Ini didasari oleh sejumlah pertanyaan. Apakah peserta lomba harus wanita yang berbadan putih, tinggi, berambut lurus, hitam dan lain sebagainya? Syarat-syarat ini justeru menomorduakan aspek yang tak kalah penting seperti kecerdasan dan  kemampuan“public speaking”. Dan, mungkin masih banyak lagi, persyaratan yang para juri tahu dan menjadi standar penentuan sang juara pada kontes ini.

Bagi pribadi penulis, kecantikan itu mungkin relatif. Kencantikan itu mungkin menjadi prasyarat utama bila kontes “Ratu Kecantikan”. Bentuk fisik dan warna kulit adalah pemberian. Lalu, bagaimana dengan kontes lain seperti Putri Pariwisata? Menomorsatukan kecerdasan dan “public speaking” lalu kecantikan atau sebaliknya? Lagi, bagi saya kecantikan itu merangkum semua yang ada pada diri wanita. Tak melulu fisik. Kencantikan tutur katanya, kecerdasannya, sikapnya dan sebagainya. Tapi dalam ajang-ajang yang digelar di Indonesia masih jauh dari harapan ini. Wanita yang tak masuk dalam kategori saya di atas pun enggan mengikuti lomba, ya itu tadi, kita tanpa sadar membuat standar-standar sempit.

Secara jujur masyarakat kita pada umumnya – termasuk para juri terjebak dengan situasi dan kondisi “rasis” yang tanpa sadar kita ciptakan sendiri. Apakah wanita yang berbadan hitam itu tidak cantik? Apakah wanita yang berambut keriting itu tidak cantik? Maaf, pertanyaan saya sedikit “rasis”, yang sebenarnya saya pun tidak boleh bertanya demikian. Fakta terjadi, saya  terbawa dalam suasana “rasis” dengan pertanyaan berbau “rasis pula”.

Kesalahan Mawarni Salem bisa menjadi sebuah pembelajaran. Kesalahan ini tak berdiri terpisah melainkan rangkaian dari seluruh proses kontes itu  baik di daerah maupun di pusat. Bila saja ada sejumlah prasyarat yang tak memenuhi standar sehingga ia layak dinobatkan sebagai Putri Pariwisata NTT 2019, lalu mengapa “dipaksakan”? Atau prasyarat kemampuan atau kecerdasan kurang, mengapa tidak ditingkatkan? Padahal  kontes Putri Pariwisata sangat tematik. Jelas. Maka output dari kontes ini harus memiliki penguasaan pengetahuan seputar tema tersebut. Kita belum bicara kemampuan berbahasa asingnya. Secara gamblangnya, sebagai Putri Pariwisata, seharusnya ia menguasai tentang pariwisata. Spot-spot wisata. Locus spot wisata, jenisnya  dan sebagainya. Kalau tidak tahu dan “berusaha” menjawab atau menyebut tetapi salah itu sebuah tindakan yang fatal.

Tetapi, saya tak melihat kesalahan itu  ditumpukan pada Clarita seorang diri. Ya, itu tadi, perjalanannya hingga ke puncak melalui proses yang panjang. Maka orang-orang yang terlibat dalam proses itu pun harus  bertanggungjawab. Dan, terlebih, mereka harus berkata jujur menyatakan kekurangannya guna meningkatkan kemampuannya dan mempersiapkan diri dengan baik. Sehingga pada puncak acara tersebut tak terjadi kesalahan semacam ini. Karena semakin tinggi level konteks, semakin tinggi pula standar kemampuan dan persiapan. Nir kesalahan. Cantik saja tak cukup.

Taruhlah kesalahan ini dianggap sebagai akibat demam panggung sebagaimana pembelaan sejumlah netizen. Ini tidak dapat dibenarkan juga. Karena proses yang diikut Clarita panjang. Mulai kontes tingkat provinsi hingga kontes tingkat nasional yang menobatkan sebagai Putri Pariwisata Indonesia 2019. Artinya, Clarita telah digembleng sebelum ajang itu digelar. Apakah digembleng atau dibekali dengan materi-materi pariwisata atau tidak?  Dan, saya tidak tahu pada seleksi tingkat provinsi diuji atau tidak pengetahuannya tentang pariwisata NTT. Kita tak usaha bicara atau bertanya bagaimana strategi mengembangkan pariwisata melainkan hal-hal sederhana seperti nama-nama obyek wisata dan lokasinya. Pengetahuan dasar ini penting karena dirinya kelak menjadi “narasumber” kepariwisataan. Dengan kesalahan yang terjadi ini, saya pun mampu memahami dan memaafkannya dengan satu alasan “lidah manusia bisa keseleo”. Sarannya, pada saat seleksi ada tes akademiklah, jika diperkenankan.

Ada baiknya, di lain pihak,  ‘keseleo’ lidah macam ini penting. Apalagi di media sosial. Karena mayoritas pengguna lebih suka tertarik dengan hal-hal yang minus. Lebih fokus pada kesalahan orang daripada sisi positif yang semesti diagungkan. Seandainya  jawaban tidak seperti ini, Clarita dan Kelimutu tak  seviral ini. Inilah media sosial. Berbeda dengan media massa konvensional. Orang akan benar-benar mencari informasi yang berbobot dari sumber yang berbobot. Media sosial tidak. Segala informasi berseliweran. Anehnya, mayoritas pengguna suka hal-hal yang nyeleneh tanpa berpikir kritis dan hantam kromo kalau berkomentar. Konten tak penting. Bicara bagus tak penting. Media pun berupaya memberikan pembiaran. Yang penting adalah trending yang berdampak pada peningkatan  traffic pengunjung media. Itu tujuan akhirnya.  Fulus pun ikut mengalir ke kantong pemilik atau perusahaan media karena iklan (Misalnya, google adsense).

Saya mengapresiasi dengan kesalahan tak sengaja yang dilakukan oleh Clarita. Ia bisa saja karena gugup. Bisa pula benar-benar tidak tahu Kelimutu berada di Ende  karena kurang pengetahuan. Boleh saja, khan? Dampaknya Clarita di-bully.  Sebaliknya, sisi positifnya,   penasaran orang tentang Kelimutu semakin tinggi. Clarita sendiri pun semakin populer. Menjadi “trending topic”. Bayangkan saja orang sekampung NTT dan belum terhitung yang diluar NTT mengeroyok atau mem-bully Clarita dengan berbagai status dan komentar di media sosial. Bagaimana mungkin polemik ini  tidak masuk halaman satu google?

Di sisi lain,  bila kita menonton video tersebut dengan sikap arif, kita justeru menemukan materi jawabannya sudah tepat. Apakah keunggulan Labuan Bajo? Kurang lebih pertanyaan malam itu. Starting point jawaban Clarita sudah tepat karena ia memandang Labuan Bajo sebagai 1 dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia. Maka bicara skala nasional, apalagi dunia, Labuan Bajo tidak dikapling lagi sebagai bagian Manggarai Barat karena alasan kondisi geografis dan wilayah administrasi kepemerintahannya. Dalam  dalam pengembangan  pariwisata berskala nasional maka Labuan Bajo itu adalah NTT. Maka tepat bila Labuan Bajo “memiliki” Kelimutu – meskipun kenyataan tidak secara geografisnya. Kemasan-kemasan bahasa ini  mengandung  provokasi yang memancing emosi publik untuk tujuan baik. Emosi apa saja. Penasaran, marah, dan sebagainya.

Sebagai kawasan destinasi wisata utama, maka Labuan Bajo sekaligus menjadi  gerbang pariwisata NTT, maka segala-gala pesona NTT dijual di sana. Tak mungkin kita hanya bicara komodo. Setelah lihat komodo, wisatawan kemana lagi? Ya, pink beach. Ya, Kampung Bena,  Kelimutu, dan seterusnya.  Sebagai kawasan destinasi wisata, maka layak Kelimutu bahkan Flores dan NTT seluruhnya  menjadi “bagian” dari kawasan tersebut (agenda promosi Labuan Bajo).  Pink Beach, Kelimutu, dan Komodo, ya memang itu keunikan dunia. Komodo satu-satunya di dunia, Danau 3 warna hanya di NTT, pink beach ada di beberapa tempat di negara lain tetapi masih terbilang unik.

Penulis menilai jawaban Clarita mengandung makna otokritik pula. Ya, kepada kita masyarakat NTT, pemerintah dan semua stakeholder yang masih terjebak pola pengelolaan pariwisata yang ego sektoral. Terpisah-pisah. Setiap kabupaten sibuk sendiri dengan pariwisatanya sendiri. Pemda Manggarai Barat hanya sibuk menjual komodonya. Orang Ngada kemana-mana hanya bawa Kampung Adat Bena. Orang Ende membangga-banggakan Kelimutu dan sebagainya. Pola pikir dan perilaku macam ini harus dihentikan. Dibalik. Diganti. Orang Manggarai Barat harus menjual juga Kelimutu, Bena, dan lain-lain. Kabupaten mana pun di NTT harus menjual semua potensi pariwisata yang ada di Ende. Karena pariwisata NTT bukan mata rantai yang terputus. Sebisa mungkin, bila orang mengunjungi Komodo, ajaklah mereka ke Bajawa, Ende, Maumere, Timor, Alor dan seluruh NTT. Semakin lama mereka bertahan di NTT, semakin besar pula efek ekonomi bagi masyarakat setempat. Ini yang kita kalah dari Bali. Pariwisata menjadi sektor unggulan. Program pariwisata antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota pun selaras. Kita tidak! Jalan masing-masing. Saatnya, Labuan Bajo menjadi pintu masuk pariwisata NTT. Wisata datang langsung ke Labuan Bajo, dari Labuan Bajo baru menyebar di NTT. Maka segala informasi potensi pariwisata wisata harus tersaji di gerbang wisata itu. Jangan sampai orang berhenti di Komodo, setelah itu kembali ke Lombok, Bali bahkan negara asalnya. Bergeraklah ke arah timur (Flores, Alor, Timor dan Rote) dan ke arah selatan  (Sabu dan Sumba).  

Kesalahan Clarita dapat menjadi sebagai strategi marketing bisnis pariwisata di dunia maya. Seperti saya uraikan sebelumnya, semakin hal ini diperbincangkan semakin trending perbincangan itu. Clarita jauh lebih baik daripada  orang, media dan mungkin dunia usaha yang sering  mengaku Sumba ada di NTB, komodo berada di NTB –  saya pernah baca headline sebuah media televisi nasional. Kesalahan ataupun pengklaiman (jika disengaja) semacam inilah yang semestinya di-bully karena ada upaya penyesatan informasi. Secara ekonomi, NTT dirugikan karena wisatawan turun di  NTB, kunjungi komodo di NTT, lalu kembali tidur ke NTB. Coba cek, berapa banya wisatawan yang datang lihat komodo, tetapi menggunakan kapal pesiar dari Bali? Berapa banyak wisatawan yang menginap di Lombok tetapi melakukan kunjungan ke Komodo? Mereka makan dan tidur di atas kapal tetapi tidak menginap di Labuan Bajo. Ya, bila mau jujur, banyak penjual paket wisata yang demikian. Pertanyaan kita,  mengapa tak sekalian saja ke NTT saja? Ya, itu tadi, kemasan promosi pariwisata.

Pada akhirnya, saya berterimakasih kepada Clarita. Dengan lidahmu yang “keselo” itu, anda telah memantik polemik dan perdebatan. Tak semua netizen yang menyinyirmu, toh kesalahan itu bisa saja bagi seorang manusia, apalagi seperti dirimu yang naik panggung level nasional. Dari Kupang, ukuran Jakarta mungkin masih sebuah “kampung”, wajarlah bila kamu demam panggung. Tapi, saya tetap melihat inilah sisi kecerdasan pengemasan bahasa yang dipahami para juri bahwa Labuan Bajo itu sebagai kawasan destinasi utama, bukan ibu kota Manggarai Barat, maka layak segala potensi di NTT layak menjadi bagian darinya. Supaya apa? Wisata tidak balik ke asalnya setelah melihat komodo, juga harus melihat obyek wisata eksotik lainnya seperti Kelimutu, Kampung Adat Bena, dan lain-lain.

Lagi, kecerdasan tak hanya menjadi syarat kontes Putri Pariwisata dan para jurinya, pula kecerdasan itu harus dimiliki penonton dan komentator yang hari-hari membully dirimu. Toh, mereka tidak lebih baik dari anda. Buktinya? Anda Putri Pariwisata Indonesia 2019. Mereka? Selamat Adinda Clarita. ***

Oleh: Giorgio Babo Moggi. Penulis gemar travelling seputar obyek wisata NTT  di sela-sela tugas utama.