Literasi Sebagai Jejak dan Langkah Pemikiran

oleh -905 views
Mariano Sengkoen

RESENSI, suluhdesa.com – Sulit bahkan mustahil dibantah, bahwa manusia, masyarakat dan bangsa yang bertumpu pada tradisi literasi yang kuat niscaya memiliki kebudayaan dan peradaban yang mantap pula. Kenyataan ini disokong oleh paradigma bahwa tradisi literasi selalu satu tarikan napas dengan tradisi intelektual atau pemikiran. Berbicara tentang literasi berarti berbicara tentang jejak-jejak dan membangun langkah-langkah pemikiran.

Setiap manusia, masyarakat atau bangsa-bangsa yang tidak memiliki tradisi literasi yang kokoh,hampir dipastikan tidak memiliki tradisi intelektual atau pemikiran yang kuat,sehingga cenderung berada dalamkerentanan dan mudah runtuh akibat berbagai turbulensi yang menerpa. Maka, kehendak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan dan peradaban, temasuk di Indonesia, mesti beriringan dengan memantapkan dan mengkokohkan budaya literasi sebagai prasyarat utamanya.

Upaya memantapkan dan mengokohkan literasi itu sendiri berkaitan erat dengan upaya pewarisan literasi yang bermanfaat untuk perkembangan dan kemajuan selanjutnya. Dalam prakteknya, literasi selalu disangga denggan tradisi baca-tulis yang bermutu dan keterbukaan pikiran yang konstruktif. Dengan demikian, selain berkaitan dengan tradisi pemikiran, literasi juga berkaitan erat dan tak dapat dilepaspisahkan dengan tradisi baca-tulis.

Demikianlah tesis utama yang hendak dikemukakan oleh Prof. Dr. Djoko Saryono dalam buku ini. Dengan rumusan yang lebih padat dikatakan bahwa literasi berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis-kreatif yang ditopang dengan kemampuan baca-tulis.Buku ini dapat dianggap sebagai kesatuan dokumentasi analisis Saryono perihal literasi. Isi gagasan dalam buku ini terdiri dari lima bagian yang terjalin sebagai sebuah kesatuan kontruksi paradigma tentang literasi sebagai episentrum kemajuan kebudayaan dan peradaban. Dengan mengupas dinamika berbagai masyarakat dan bangsa akibat kondisi literasi yang berubah, serta melihat kondisi dan pengalaman bangsa Indonesia sendiri, kelima bagian tersebut dibahas secara eksploratif dan argumentatif.

Pada bagian pertama, Saryono membahas tentang literasi sebagai episentrum kemajuan. Pembedaan Walter J. Ong tentang kelisanan primer (primer orality), naskah (manuscript), literasi (literacy) dan kelisanan sekunder (secondary orality) digunakan untuk membaca fenomena perihal literasi. Dari pembacaan tersebut tampak bahwa berbagai kebudayaan dan peradaban yang bertumpu pada kelisanan primer dan naskah tampak sulit berkembang. Hal yang sebaliknya terjadi pada yang bertumpu pada literasi dan atau kelisanan sekunder. Adapun kelisanan sekunder sendiri bertumpu pada literasi sebagai conditio sine qua non, sekalipun berbeda secara signifikan.

Baca Juga:  Viktor dan Jos; STFK Ledalero Harus Menjadikan SDM Orang NTT Berkarakter

Dalam rangka itu, proyek Keindonesiaan mestinya mengambil fokus pada proyek literasi.Fokus pada upaya menuju dan mencapai zaman literasi yang nyata dan merata merupakan palang pintu pertama bagi perkembangan dan kemajuan bangsa.Vision paperUNESCO tahun 2004 menyebutkan bahwa literasi merupakan prasyarat bagi partisipasi masyarakat dalam bidang kegiatan sosial, politik, kultural dan ekonomi di zaman modern. Literasi merupakan kunci utama pemberdayaan, kehidupan yang lebih baik dan peran serta dalam kehidupan demokrasi.Literasi juga merupakan perangkat fundamental bagi pembelajaran sosial sebagai langkah awalguna membangun tata kehidupan bersama yang berperikemanusiaan.

Selanjutnya, pada bagian kedua, Saryono mempertajam gagasan tentang pentingnya penguasaan literasi.Penguasaan literasi mesti mendapat perhatian serius agar dapat terbangun kehidupan yang semakin berkembang, bermakna dan maju. Ini bukan sekedar imperatif nasional tetapi juga global sebagaimana dapat dilihat dalam kampanye dan gerakan UNESCO berupa Dasawarsa Literasi PBB untuk periode tahun 2003-2013 dan Prakarsa Literasi Bagi Pemberdayaan untuk periode tahun 2005-2015.

Literasi dianggap kian penting terutama ketika sekarang dunia sedang memasuki dan berada dalam abad masyarakt berjejaring (networking society), atau masyarakat pengetahuan (knowledge society) atau masyarakat kreatif-inovatif (creative and inovative society). Dalam itu, segala kegiatan bertumpu dan atau berporos pada pengetahuan dan kreativitas. Penguasaan terhadap pengetahuan dan kreatifitas yang bermutu dan produktif adalah kebutuhan utama, hal mana hanya dapat ditempuh melalui penguasaan literasi yang mantap dan kokoh. Literasi memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan dan memantapkan tradisi pemikiran secara ketat, cermat dan kokoh, yang disanggah oleh tradisi baca-tulis. Di sinilah substansi literasi sebagai kemampuan berpikir kritis-kreatif yang disanggah oleh kemampuan membaca dan menulis yang kuat.Hal itu juga mempersyaratkan hadir dan berfungsinya tulisan atau bacaan. Literasi, pada satu sisimemampukan manusia meraih dan memiliki pengetahuan, dan di sisi lain memproduksi kreativitas dan inovasi yang cemerlang, termasuk dalam bentuk tulisan atau bacaan.

Pada bagian ketiga, Saryono membahas taksonomi literasi dalam rangka mempertegas posisi literasi.Sebagaimana diketahui, hingga kini, terdapat beragam taksonomi atau kategori literasi, baik yang diajukan oleh lembaga dan akademisi, maupun yang muncul sebagai penyesuaian terhadap kebutuhan perkembangan yang berlangsung. Taksonomi ini cenderung akan terus berkembang ke depannya.Walau demikian, berbagai taksonomi literasi tersebut sebenarnya berakar pada kemampuan berpikir kritis kreatif yang disanggah oleh tradisi baca-tulis. Taknosomi tersebut hanya membagi kegiatan literasi menurut bidang atau fokus kajian yang berbeda.

Baca Juga:  Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember Lakukan KKN Di Desa Sumber Ketempa

Terdapat hubungan resiprok yang berlangsung secara spiral, bahwa tanpa adanya kegiatan membaca dan menulis mustahil terbentuk kemampuan berpikir secara kritis kreatif. Begitu pula tanpa kemampuan berpikir kritis kreatif mustahil tumbuh budaya literasi yang baik. Oleh karena itu, tradisi membaca dan menulis mesti dibentuk, dipelihara dan diperkuat secara serempak, konstruktif dan maksimal, melalui berbagai jalur yang relevan seperti pengajaran, pendidikan, pendampingan, pemasyarakatan dan penerbitan.

Selanjutnya, pada bagian keempat Saryono memaparkan dan mengulas tentang fenomena involusi tradisi baca-tulis dalam perkembangan literasi di Indonesia. Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa memasuki tahun 1960, tradisi literasi di indonesia mulai mengalami involusi. Walaupun ketersediaan bacaan dan gerakan menulis yang kian bertambah, namun hal itu tidak paralel dengan kualitas karya-karya yang dihasilkan. Gagasan dan pemikiran tidak mengalami kemajuan berarti. Sebagai gantinya, malah semakin menguat tradisi kelisanan. Kelisanan itu tidak hanya tampak dalam komunikasi sosial, politik dan budaya namun dalam tulisan atau kepustakaan yang mengandung banyak residu kelisanan.

Ada empat alasan di balik involusi tersebut. Pertama, sebagai respon terhadap pragmatisme dan liberalisme, pengelolaan dan penyelenggaran pendidikan justru bersifat jangka pendek, praktis, tidak strategis, lebih mengarah pada hal kuantitas dan mengaibaikan kualitas. Kedua, berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi yang masih di Indonesia tidak diikuti dengan transformasi budaya literasi masyarakat. Ketiga, berkembang dan menjamurnya budaya visual yang menjerat masyarakat sehinggadalam akses pengetahuan, sebagian besar manusia Indonesia lebih memilih menonton dan mendengar daripada membaca dan menulis. Keempat, adanya rezim kekuasaan yang mengganggu dan bahkan menghambat perkembangan literasi karena kegelisahan bahkan kepanikan terhadap kebebasan informasi dan pengetahuan.

Akhirnya pada bagian kelima, Saryono secara khusus menyodorkan analisa tentang tempat sastra dalam literasi. Hal ini sangat beralasan, sebab jika ditelisik dari sisi evolusi semantik, sastra sevara hakiki berkenaan dengan literasi. Istilah dan konsep sastra dalam bahasa Indonesia memiliki kesepadanan dan kesamaan substansi dengan istilah bahasa Latin “litterature” yang bermakna pustaka atau bacaan. Pemaknaan ini menyiratkan dan mempersyaratkan makna literasi sebagai tradisi membaca dan menulis yang lahir dari kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Dalam prakteknya, sastra mengedepankan otentisitas yang terwujud melalui fiksionalitas dan imajinasi literer pada satu sisi dan kemampuan berpikir kritis kreatif di sisi lain. Sastra berkembang dengan membaca dan dapat terawetkan dengan menulis untuk menghasilkan angan bermakna tingkat tinggi. Oleh karena itu, keberadaan dan peranan sastra sesungguhnya sangat fundamental dan signifikan bagi perkembangan dan kemajuan kebudayaan dan peradaban.

Baca Juga:  SMAK St. Kristoforus Pali: Menciptakan Generasi Unggul, Beriman dan Bermoral

Namun dalam perkembangnnya, keberadaan dan peranan sastra di dan dari Indonesia seperti berada dalam kegamangan. Secara lahiriah sastra tampak disepelekan, namun secara batiniah terus dibutuhkan. Karena dua alasan berikut, hal tersebut perlu diatasi karena merupakan sebuah anomali kebudayaan. Pertama, sastra di berbagai belahan dunia mampu memberikan sumbangan bagi lapangan kebudayaan dan peradaban. Berkaca dari sana, sastra Indonesia memerlukan reposisi, refungsionalisasi dan reorientasi di dalam konfigurasi kebudayaan dan peradaban indonesia mutakhir. Kedua, ada pergeseran corak, doktrin dan tren ilmu pengetahuan yang kembali mendekat pada sastra. Sastra dilibatkan dan diperankan kembali dalam kerja-kerja pengetahuan filosofis, ilmiah bahkan pengetahuan awam. Oleh karena itu, diperlukan perlindungan, pembinaan dan pengembangan sastra secara berkelanjutan.

Dalam rangka menjawabi tantangan dan sekaligus memperbaiki keadaan perihal pertumbuhan dan perkembangan literasi dan sastra di Indonseia, pendidikan atau pembelajaran dapat dijadikan tempat dan instumen utama, mengingat demikian fundamental dan strategisnya tempat pendidikan. Perlu dikembangkan dan dilaksanakan pendidikan atau pembelajaran sastra indonesia berlandaskan literasi, tradisi baca-tulis dan kemampuan berpikir kritis kreatif sebagai sebuah strategi untuk menghasilkan kepiawaian nalar tingkat tinggi (high order thinking skills) demi perkembangan dan kemajuan lapangan kebudayaan dan peradaban indonesia. Hal lain yang juga penting adalah adanya kebijakan politik literasi yang komprehensif dan holistik dalam gerakan lintas sektoral dan multi sektoral secara teprogram dan berkelanjutan. Penting dirumuskan road map literasi di indonesia untuk membingkai sekaligus mengarahkan berbagai upaya dan gerakan literasi, baik bagi pemerintah, lingkungan pendidikan, masyarakat, swasta maupun beragam profesi dan kelompok pegiat.

Dengan mengedepankan tesis tentang literasi sebagai kemampuan berpikir kritis kreatif yang didukung dengan kemampuan baca-tulis, Saryono menunjukkan bahwa perihal literasi adalah tentang jejak dan langkah pemikiran. Dalam arti itu dapat dipahami urgensi literasi sebagai instrumen utama untuk memasuki, menjalani dan menyongnsong masa depan kebudayaan dan peradaban. Pikiran adalah salah satu aspek pembeda spesifik manusia. Dengan mendayagunakan pikiran, kemanusiaan manusia dipertegas. Diperkaya dengan kepustakaan yang kaya dan bahasa tulisan yang cermat, buku ini menawarkan sebuah lajur kemanusiaan untuk disusuri, yang berkontribusi untuk mengantarkan kebudayaan dan peradaban pada gerbang keunggulan dan kemasyuran. (*)

Judul Buku      : Literasi; Episentrum Kemajuan kebudayaan dan Peradaban

Penulis            : Djoko Saryono

Penerbit           : Pelangi Sastra, April 2019

Tebal               : xvi + 92 hal.

Oleh : Mariano Sengkoen. Dilahirkan di Dili, pada 29 Oktober 1989. (Alumni Fakultas Filsafat Unwira Kupang, dan sementara menempuh pendidikan untuk gelar Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang, dengan bidang kajian Studi Ketahanan Nasional. Alamat tempat tinggal di Jl. Basuki Rachmat, Benpasi, Kefamenanu, TTU. Namun untuk sementara waktu ini berdomisili di Malang. Mariano atau Ino dapat dihubungi melalui no Whatsapp 085237936852, atau melalui akun Facebook; Ino Sengkoen).