HUT Satu Abad SDK Inerie-Malapedho, Alumni Diminta Beri Perhatian

oleh -626 views
Murid SDK Malapedho - Inerie saat ini

BAJAWA, suluhdesa.com – Tanggal 1 Agustus 2019 Sekolah Dasar Katolik (SDK) Inerie-Malapedho, Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur genap Seratus Tahun atau satu abad. Sekolah yang didirikan oleh misionaris SVD pada 1 Agustus 1919 di Maghilewa Inerie ini menoreh sejarah yang sangat panjang.

Dengan capaian usia satu abad itu, wajar bila ada ucapan syukur terutama kepada Sang Sabda yang telah mengayomi keberadaan sekolah ini. Ucapan syukur itu memang tidak tepat pada hari lahir yakni 1 Agustus. Panitia Satu Abad SDK Inerie – Malapedho baru menggelar perayaan pada 5 dan 6 September 2019 di SDK Malapedho.

Pada Kamis (5/9/2019) Panitia menggelar seminar dengan narasumber Rm. DR. Donatus Wea, Pr yang juga adalah salah satu alumni. Seminar ini dimoderatori pengajar Hubungan International UPN Yogyakarta Nikolaus Loy, Cand. Doktor.

Jumat pagi (6/9/2919) digelar perayaan syukur Ekaristi Kudus yang dipimpin Rm. Don Wea dan Rm. Alo Lae,Pr yang juga adalah alumni. Usai misa dilanjutkan dengan resepsi.

Baca Juga:  67 Mahasiswa STIPAS KAK Diwisuda: Harus Jadi Guru yang Baik 

Hadir pada kesempatan tersebut Pejabat dari Pemkab Ngada, DPRD Ngada dan undangan lainnya. Berbagi mata acara ditampilkan pada kesempatan tersebut.

Lelang Buku Kenangan

Panitia juga menghadirkan sebuah Buku kenangan SATU ABAD SDK MALAPEDHO. Buku ini disusun oleh Agust G Thuru, Nikolaus Loy dan Fredy B Jogo Ena yang ketiganya merupakan alumni pada sekolah ini. Buku ini didesain oleh Martyn Reswan Deghe (Mahasiswa Sekolah Tinggi Desain Bali).

Kehadiran Buku kenangan ini menjadi sangat berarti. Panitia melakukan pelelangan Buku kenangan tersebut. Lelang menghasilkan dana cash sekitar Rp 20 juta lebih.

Wadah Alumni

Selain itu, para alumni juga sepakat untuk membentuk Ikatan Alumni Inerie Malapedho. Tujuannya agar para alumni di mana saja mereka berada dapat ikut serta memperhatikan SDK Malapedho sekarang ini. Maka diputuskan ada gerakan Rp 10.000 perbulan per alumni.

Pengurus Ikatan Alumni SDK Inerie Malapedho – Inerie

Dana tersebut dimaksudkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar termasuk membangun sarana penunjang terutama gedung sebab usia gedung sekolah saat ini sudah hampir 40 tahun. Diharapkan para alumni di seluruh nusantara dapat membagi apa yang dipunyai untuk almamater.

Baca Juga:  LKTD Galeka Uyelewun Kupang, Melahirkan Kader Pemimpin

Dari SRK ke SDK

Keberadaan SDK Inerie Malapedho awalnya adalah Sekolah Desa Maghilewa saat didirikan pada 1 Agustus 1919. Lama belajar adalah tiga tahun. Jadi tidak ada kelas empat sampai enam. Kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakyat Katolik 3 Tahun.

Pada Tahun 1955 SRK Maghilewa berubah menjadi SDK Inerie dan dimulai Kelas 4 sampai 6. Bangunan sekolah masih darurat bertiang batang lontar, berdinding gedeg dan beratap alang-alang. Juga berlantai tanah.

Meski begitu dalam kesederhamaan dan keterbatasan fasilitas masih bisa menghasilkan lulusan yang terdidik dan berkarakter. Beberapa lulusan melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi dan menjadi guru, politisi, pastor, suster, akademisi, dan pejabat juga jurnalis dan profesi lainnya.

Pada Tahun 1976 SDK Inerie pindah dari lereng gunung ke tepi Pantai atau dari Maghilewa ke Malapedho. Kepala desa saat itu Rofinus Raga berusaha memutus rantai keterisolasian Maghilewa dengan eksodus ke Malapedho.

SDK Malapedho Kini Dan Ke Depan

Baca Juga:  Yoseph Madha: Satu Abad SDK Inerie-Malapedho, Menatap Penuh Harapan

Jika dihitung dari Tahun 1976 maka usia SDK Malapedho belum satu Abad. Tapi cikal bakal SDK Malapedho adalah SRK Maghilewa.

Sejumlah tantangan dihadapi oleh sekolah ini.

Pertama, gedung yang dibangun hampir 40 tahun lalu kini sudah banyak yang keropos. Ini tentu menuntut kepedulian para alumni untuk berbagi.

Kedua, jumlah murid yang cenderung menurun. Memang hal ini berkaitan dengan jumlah kelahiran yang dibatasi.

Ketiga, kesejahteraan guru, karena ada guru yang bukan PNS. Mereka tentu tidak bisa dihargai dengan honor hanya ratusan ribu.

Keempat, minimnya fasilitas pendukung lainnya seperti perpustakaan, perangkat alat musik, perangkat teknologi informasi, kursi dan meja.

Dengan dibentuknya ikatan alumni dan dilanjutkan dengan membentuk koordinator wilayah di seluruh Indonesia, diharapkan permasalahan bisa diatasi.

Ayo para alumni di Flores, Sumba, Timor, Sumbawa, Lombok, Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, mari kita tanggap harapan mereka yang setia menjaga kampung, menjaga almamater SDK Inerie Malapedho. (Agust G Thuru/Agust)