Guru, Berhentilah Mendidik Manusia Seperti Katak Dalam Tempurung

oleh -304 views
Boy Zanda (Guru, Penulis, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis-Bajawa)

OPINI, suluhdesa.com – Pendidikan adalah jalan menuju peradaban. Jalan itu harus ada roh. Roh itu pun harus diciptakan sekaligus diperjuangkan tanpa henti. Untuk itu Kegiatan Belajar Mengajar dalam kelas tidak lagi dijadikan sebagai ruang dan tempat untuk mencetak anak menjadi pintar, tapi harus dimaknai lebih kepada tanggung jawab moral seorang guru untuk mempersiapkan anak menjadi cerdas untuk hidup.

Untuk itu, pendidikan tidak lagi diartikan hanya sebatas Kegiatan Belajar Mengajar di kelas dan hanya menjadi tanggung jawab guru semata. Namun harus menjadi tanggung jawab moral semua elemen terkait yakni guru, orang tua, pemerintah dan masyarakat luas. Agar semua elemen ini terlibat aktif secara tulus, maka menyiapkan panggung sebanyak-banyaknya tanpa henti bagi pengembangan potensi anak adalah keharusan. Sehingga kesinambungan proses secara berkelanjutan antara teori di kelas, melibatkan sesama dengan dunia praksis dapat berjalan secara sistematis.

Berdasarkan pengalaman nyata yang saya alami, justru teori yang berbobot lahir dari panggung praksis. Sebab tidak semua orang yang pintar secara teori mampu mengimplementasikan dalam dunia praksis. Semisal, siswa A, mendapatkan nilai 90 untuk Mata Pelajaran Sosiologi namun dalam dunia praksis, dia adalah seorang pribadi yang individualis dan egois. Contoh lain, siswa B, mendapatkan nilai 98 Mata Pelajaran seni musik namun dalam dunia praksis dia tak mampu bernyanyi dan bermain alat musik secara baik.

Baca Juga:  Memori di Kampung Watu

Padahal dunia zaman kini menuntut kita untuk bisa berbuat sesuatu agar mampu bersaing dan mampu bertahan hidup. Karenanya, memiliki life skill adalah kebutuhan. Life skill itu sangat beraneka ragam. Semisal, punya suara yang bagus, bisa public speaking, berdebat, menulis, dan lain-lain. Nah, jika, miliki ini, niscaya perjuangan untuk hidup dapat dijalani dengan baik. Hal ini banyak saya temukan dalam dunia nyata, betapa banyaknya teman-teman-ku yang memiliki ijazah SMP, SMA dan bahkan putus Perguruan Tinggi yang memiliki life skill yang luar biasa dan bahkan mampu menjadi pendidik yang handal. Saya pun angkat jempol bagi mereka.

Oleh karena itu, biar kemajuan zaman tidak memperhamba manusia dan tidak membias dalam lingkup pendidikan, maka menciptakan panggung baik dalam kelas maupun luar kelas adalah keharusan. Darinya, pendidikan melalui panggung akan melahirkan banyak generasi unggul yang siap action pun terjadi. Dan kemajuan zaman pun akan membantu manusia untuk semakin menemukan potensi dan jati dirinya untuk terus dikembangkan demi kemajuan dirinya, sesama dan lingkungannya.

Baca Juga:  Akreditasi 'B', Fakultas Filsafat Unwira Kupang Siap Mencetak Lulusan Yang Berdaya Guna

Melalui aksi panggung pun, guru harus menjadi murid dan murid menjadi guru. Sehingga panggung tidak hanya identik dengan pengembangan potensi anak namun harus dijadikan momen terindah bagi guru untuk semakin mengasah kecerdasan dalam banyak aspek.

Benar adanya bahwa Kegiatan Belajar Mengajar dalam kelas itu penting namun jangan menjadikannya paling penting sampai lupa menyiapkan panggung untuk anak didik. Sampai lupa dan bahkan membawa anak keluar untuk merasakan hidup dengan segala macam tantangan dan perjuangan hidup yang sesungguhnya. Sebaliknya, jadikan KBM di kelas dan menyiapkan panggung bagi pengembangan bakat potensi anak sama-sama penting. Sehingga, pengimplementasian antara sekolah teori dan sekolah praksis dapat seiring sejalan.

Baca Juga:  Bendung Penyebaran Covid-19, Marius Sampaikan 6 Arahan Presiden Joko Widodo

Sebab, hemat saya mendidik tanpa membiasakan anak untuk miliki keberanian berbicara dan berargumen di depan umum secara baik, adalah kehampaan. Oleh karena itu, dalam menjalankan hidup ini tak perlulah pintar setinggi langit tapi butuh orang yang berani berbicara, bertindak, mengambil sikap serta keputusan dan kuat pula dalam menghadapi tantangan seberat apa pun itu.

Bagi saya, dalam sikap dan mental keberanian sudah terkandung banyak potensi dan kecerdasan itu sendiri. Dan oleh kekuatan banyak kecerdasan itulah yang membuat orang berani dan sukses dalam banyak hal.

Dan salah satu wadah yang dapat mendidik siswa untuk memiliki rasa percaya diri dan keberanian dalam mengembangkan berbagai potensi diri adalah lembaga pendidikan. Untuk itu, berhentilah mendidik manusia seperti katak dalam tempurung. Jika ini yang terjadi, maka janganlah heran, jikalau eksistensi lembaga pendidikan hanya melahirkan orang pintar tanpa roh keberanian. (*)

Oleh Boy Zanda (Guru, Penulis, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis Bajawa)