Grace Anastasia: Tidak Bekerja Sendirian

oleh -270 views
Agust G Thuru

OPINI, suluhdesa.com – Saya ingat beberapa bulan lalu ketika Ada pertemuan para tokoh Katolik dan penyuluh agama Katolik dengan Bimas Katolik di Hotel Aston DENPASAR salah satu awam yang hadir saat itu adalah Ibu Grace Anastasia. Dia adalah Caleg DPRD Bali dari Partai Solidaritas Indonesia.

Pada Pileg April 2019 lalu ia bertarung di Dapil 1 Kota DENPASAR. Di Dapil itu ia harus berkompetisi dengan Caleg yang punya nama besar, dikenal luas dan incumbent.

Di internal umat Katolik ia harus bersaing dengan sesama pengikut Yesus, Yoseph Yulius Diaz yang berkompetisi melalui kendaraan Partai Gerakan Indonesia Raya/Gerindra.

Saya terharu dengan pengakuan Ibu Grace. Bahwa ia memilih terjun ke panggung politik untuk memperjuangkan apa yang ia yakini. Ia mendaftar langsung ke DPW PSI dengan harapan dirinya yang bukan apa-apa bisa BERBUAT sesuatu untuk negara.

Kalau Tuhan Mau

Maju sebagai Caleg pendatang baru ternyata menghasilkan kejutan. Dan kejutan itu adalah Grace Anastasia terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Bali periode masa bhakti 2019-2024.

Baca Juga:  PMKRI Kupang Kecam Oknum DPRD TTS yang Ancam dan Maki Pastor

Memang perolehan suara individu yang dikumpulkan Grace Anastasia tidak sampai puluhan ribu. Cuma 4.000 lebih suara. Tetapi di tengah realitas umat Katolik yang minoritas di Kota DENPASAR perolehan 4.000 lebih suara itu adalah jumlah yang besar. Perolehan Suara Grace Anastasia tertinggi dari semua Caleg PSI untuk DPRD Provinsi Bali.

Lalu mengapa Grace Anastasia lolos ke gedung wakil rakyat di Renon? Di luar dugaan ternyata banyak pemilih yang memilih PSI selain memilih Caleg tetapi ada yang tidak mencoblos Caleg tetapi tanda gambar PSI. Perolehan Suara PSI pada Pileg untuk DPRD Provinsi Bali mencapai 19.000 lebih. SEHINGGA PSI berhak atas satu kursi dan Grace Anastasia yang meraihnya.

Kita akhirnya yakin, Ibu Grace Anastasia tidak sendirian. Ada kekuatan yang berjuang bersamanya. Selain Tim sukses yang mendukung dan para pemilih maka ada yang paling menentukan yakni kedalaman Iman. Kalau Tuhan mau siapa berani melawan? Jadi kalau Tuhan mau Grace Anastasia menjadi corong-Nya untuk menyuarakan suara kenabian maka seorang Grace Anastasia pun bisa dibuatnya tak berdaya dan harus memikul salib-Nya. Terpilih sebagai Anggota DPRD Bali adalah salib untuk Grace Anastasia.

Baca Juga:  Nama-Nama Calon Menteri Mencuat, Ada Aktivis 98

Di Tengah Keragaman

Pada 2 September 2019, Grace Anastasia telah dilantik dan diambil sumpah sebagai Anggota DPRD Bali periode 2019-2024. Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik Bali seorang Imam Katolik hadir di gedung Dewan di Renon sebagai saksi. Romo Eman datang dengan membawa kitab suci dan stola. Grace Anastasia yang memungkinkan sejarah itu tercipta.

Grace Anastasia tentu tak perlu berkecil hati atau ciut nyali karena dari 55 Anggota DPRD Bali, hanya dia sendiri yang Katolik. Yang lainnya Hindu. Tentu persaingan suara dan persaingan gagasan di gedung Dewan akan sangat tak berimbang.

Namun yang menentukan mutu, bukan jumlah tapi kompetensi. Lihatlah Ketua Umum PSI Grace Natalia, pendatang baru di panggung politik Indonesia tetapi menggetarkan. Keberanian mengemukakan pendapat dan kritik, kecerdasan dalam mengatur cara menyampaikan pendapat dan keberpihakan kepada masyarakat yang terpinggirkan mengangkat namanya ke pentas politik tanah air.

Baca Juga:  Partai Koalisi Pengusung Paket SN-KT Siap Daftar di KPU Malaka

Kesendirian Ibu Grace Anastasia di gedung Wakil Rakyat Renon bukan berarti dirinya akan tergilas oleh kekuatan politik mayoritas. Kesendiriannya justru membawa berkah bahwa ia akan menjadi wakil yang bicara tanpa harus kompromi dengan anggota lain sesama Partai. Jika Ibu Grace merujuk pada Gaya politik Ketua Umum PSI Grace Natalia maka bukan tidak mungkin satu orang akan mempengaruhi opini 54 lainnya. Sebab yang menentukan bukanlah jumlah tetapi mutu, non multa send multum. (*)

DENPASAR, 6 September 2019

Oleh: Agust G Thuru (Redaktur Senior Media Suluh Desa / www.suluhdesa.com , Jurnalis, Mantan Ketua Presidium PMKRI Madiun St. Ambrosius, Domisili di Denpasar)