Menasihati Murid Agar Jangan Pacaran, Guru Pun Jangan ‘Ganggu’ Murid

oleh -476 views
Boy Zanda (Guru, Penulis, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis-Bajawa)

OPINI, suluhdesa.com – Saya bukan seorang yang bersekolah guru. Itu artinya semua mata kuliah yang saya pelajari selama kuliah, tak satu pun yang berkaitan dengan profesionalisme guru. Sementara, untuk jadi guru dituntut untuk menjadi pendidik yang profesional. Itu berarti, menjadi guru, harus sekolah guru pula.

Ya, untuk menjadi guru, harus sekolah guru adalah keharusan. Analoginya begini, untuk meng-instalasi, maka dibutuhkan orang yang sekolah jurusan listrik. Hal ini, menjadi keharusan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti korslet sehingga diri menjadi korban, sesama menjadi korban, dan lingkungan pula yang menjadi korban.

Benarkah Demikian?

Sebagai seorang guru yang tidak sekolah guru, maka saya tidak berbicara dari latar belakang guru atau pendidikan guru. Namun dari kacamata pengalaman nyata yang sudah saya lihat, alami, dan lakukan.

Pada pertengahan tahun 2014, saya mulai mengajar di SMA Katolik Regina Pacis Bajawa dan main-main dengan anak-anak Recis. Maklum bukan sekolah guru, jadi Bapak Kepsek Rinu Romanus bilang, “ade kau bantu-bantu dulu dengan anak-anak band e”.

Baca Juga:  Belajar di SMPN 10 Kota Kupang; Ada Cinta yang Tulus

Setelah sebulan main-main dengan anak-anak Recis, akhirnya saya diberi tes tertulis soal sosiologi. Ya, saya kerja seadanya, sembari berdoa “Tuhan saya butuh kerja”.

Dan pertengahan tahun 2014 saya mulai dipercayakan untuk mengajar siswa Recis kelas satu. Saya pun dipanggil guru. Semua yang berkaitan dengan profesionalisme guru, saya mulai belajar dari titik nol, seperti RPP, Silabus, Cara ajar yang benar, dan lain-lain.

Bersamaan dengan proses belajar yang tanpa henti itu, saya pun menjalani tugas sebagai seorang guru. Banyak tanya, displin, keteladanan dan terus belajar kepada siapa saja dan dimana saja. Itulah komitmen yang saya hidupi dalam keseharin hidup saya, baik dalam sekolah maupun luar sekolah.

Saat ini saya memasuki tahun ke 5 menjadi guru Recis. Dan selama waktu ini, saya menemukan jawaban, bahwa menjadi guru hanya butuh dua hal yakni jadi guru yang tetap belajar dan menunjukan keteladanan dalam sekolah maupun di masyarakat.

Oleh karena itu, bagi saya mengajar bukanlah hal yang paling sulit. Dan semua orang bisa jadi guru, jika dia mau jadi pribadi pembelajar dan keteladanan. Misalnya meminta murid jangan terlambat, maka guru pun jangan terlambat. Menasihati murid supaya jangan pacaran karena masih sekolah, guru pun tidak boleh mengganggu murid atau hal-hal lainnya di luar maupun di dalam sekolah.

Karenanya, profesi apa saja, akan bisa kita lakukan, jika kita miliki kemauan yang kuat untuk terus belajar. Biar tidak sekolah mesin atau jurusan listrik, namun jika kita mau belajar, maka kita pun mampu menginstalasi atau pun memperbaiki motor.

Baca Juga:  Akreditasi 'B', Fakultas Filsafat Unwira Kupang Siap Mencetak Lulusan Yang Berdaya Guna

Namun, saya tidak sedang membenarkan bahwa jadi guru tidak harus sekolah guru. Tetap sekolah guru. Namun tidak berarti bahwa yang bukan sekolah guru tidak bisa jadi guru profesional.

Itulah pengalaman saya. Bahwa segala sesuatu akan bisa, jika kita mau untuk bisa. Maka, belajar atau mendidik anak harus untuk bisa bukan untuk pintar. Yang bisa sudah pasti pintar dan cerdas, namun yang pintar belum tentu bisa. Yang bisa, dia bisa cuci piring, jadi pelayan, banyak tanya, tidak sok tahu, sok hebat, dan sok-sok lainnya.

Baca Juga:  LPMP NTT Dan Media Cakrawala Gelar Seminar Pendidikan

Kalau yang pintar biasanya, sok tahu, sok pintar, ego, hanya banyak teori, bermental bos, suka perintah dan minus keteladanan.

Kesimpulan saya, guru yang sekolah guru harus tetap jadi guru yang selalu berguru pada guru siapa saja, jadi guru pembelajar dan keteladanan. Jangan puas dengan guru yang sekolah guru. Sebaliknya yang guru tapi tidak sekolah guru, harus belajar lebih dan lebih pada siapa saja termasuk pada murid sekali pun. (*)

Oleh ; Bonefasius Zanda (Penulis,Pendidik, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis Bajawa)