Para Mahasiswa Yang Baru Diwisudakan : Sarjana Harus Turun ke Desa

oleh -600 views
Boy Zanda (Guru, Penulis, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis-Bajawa)

OPINI, suluhdesa.com – Kampus Unipa yang berdiri kokoh di Kabupaten Sikka itu, patut berbahagia karena baru saja memwisudakan 397 sarjana dan diploma III tahun 2019. Realitas ini, banyak menimbulkan beragam cara pandang di kalangan warganet. Ada yang pro dan tak sedikit yang kontra. Yang kontra menegaskan bahwa para wisudawan/i itu adalah calon  pengangguran baru di atas para penganggur saat ini. Ini banyak saya baca di media sosial. Lantas, saya pun terpanggil untuk menanggapinya.

Bagi saya, perjuangan untuk mencapai titik puncak itu sangatlah sulit. Dan bahwa untuk mencapai titik itu pula, Lembaga Pendidikan Unipa sudah berjuang sekuat tenaga. Bahwasanya tak ada sarjana yang menginginkan untuk menjadi seorang penganggur. Selain itu pula, tak pernah ada Kampus yang menginginkan peserta didiknya untuk menganggur pula.

Untuk itu, biar para warganet yang kontra itu sedikit insaf dan bahkan bisa memahami arti di balik perjuangan itu tidaklah muda, maka saya cukup menyodorkan sambutan yang pernah saya bawakan mewakili teman-temanku pada tahun 2013 silam.

Hidup adalah perjuangan. Life is a Struggle. VITA Militia Est! Hidup tanpa perjuangan adalah mati. Mati tidak sedang dalam perjuangan adalah konyol! Itu berarti hidup tidak berkreasi, tidak cerdas dan tidak bijak! Suasana penuh bahagia hari ini tidak akan pernah terjadi dan dialami jika saya dan teman-teman saya hanya berdiam diri dan tidak kreatif.

Hari ini adalah hari yang mengharumkan, hari di mana kami membuat sejarah besar buat hidup kami. Karena itu, hari ini menjadi juga hari yang membahagiakan dalam hidup kami, hari di mana kami bisa lebih mengerti arti dari sebuah perjuangan. Perjuangan 4 tahun telah kami lewati, tentunya semua itu tidak kami capai dengan mudah dan mulus dengan tidak hanya mengandalkan diri kami sendiri. Perjuangan untuk hidup setiap pribadi, adalah sebuah perjuangan bersama dan dengan komitmen yang tinggi. Perjuangan yang harus melibatkan banyak pihak secara solid dan dengan tekad yang bersih-luhur. Kami bisa mengalami kebahagiaan hari ini karena kami telah berjuang secara bersama-sama dan dengan cara-cara yang bermartabat. Kami saling bergandengan tangan, saling menguatkan secara konstruktif, susah senang kami lewati secara bersama. Karena itu, kebahagiaan hari ini adalah bukti dari perjuangan hidup dengan komitmen tinggi dalam kebersamaan yang konstruktif, kreatif dan bermartabat yang kami rajut selama ini.

Kebahagiaan yang kami dan kita alami hari ini  bukanlah sebuah suasana yang tiba-tiba dan apalagi kebetulan terjadi, tetapi suatu kebahagiaan yang diperjuangkan dengan tekad yang konsisten melalui suatu proses kerja keras yang teramat panjang dan sangat melelahkan. Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah membuat kami setia berjuang hingga sukses dan dengan penuh rasa syukur kami wisudawan/ti boleh merebut kebahagiaan bermartabat. Syukur dan terima kasih kami yang tak berhingga kami berikan ke hadirat-Mu, karena Engkau telah dan selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Baca Juga:  Tidak Pulang Kampung, Kesadaran Moral Perangi Corona

Kami wisudawan/ti menyadari bahwa Keberhasian dan kebahagiaan yang kami rasakan hari ini adalah juga kebahagiaan keluarga besar STPM Santa Ursula, kebahagiaan Orang Tua dan kebahagiaan semua mereka yang telah berandil bijak  di balik kesuksesan dan kebahagiaan kami ini. Oleh karena itu, saya mewakili teman-teman wisudawan/ti mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Nusa Taruni Bhakti, Civitas akademika STPM SANUR. Kami sungguh merasakan cinta Tuhan lewat pengabdian dan kurban hidup, melalui perhatian, bimbingan dan tanggung jawab para dosen, melalui dedikasi yang tinggi para pegawai serta dukungan konstruktif dan simpati adik-adik mahasiswa STPM Santa Ursula pada umumnya.

Kalian semua telah memberikan harapan di kala kami patah semangat, memberi dan menuntun kami ke jalan yang benar dan terarah di kala kami terancam jatuh pada jalan yang salah. Kalian semua telah mengajarkan kami untuk hidup sederhana, hidup dengan semangat wirausaha, hidup dengan hati yang memiliki keluasan untuk berkompetisi secara sehat dan bermartabat. Kalian semua telah mengajarkan kami untuk hidup tegar, pantang mundur, tetapi optimis menantang masa depan. Ketegaran dan semangat kami telah teruji, setiap kali kami turun ke desa-desa, naik gunung turun gunung, untuk bersama masyarakat kampung membenah hidup dalam upaya pemberdayaan masyarakat akar rumput.

Kami bangga dengan STPM, karena selalu mengajarkan kami untuk peka dan peduli dengan situasi luar Kampus, cepat respek dan tanggap aktif dengan berbagai realitas sosial yang buram yang ada di sekitar kami. Realiatas buram dan sangat menantang sekalipun, sudah kami lewati dan kami rasakan bersama masyarakat yang ada di desa dan di kampung-kampung. Karena itu, ketika kami berhadapan dengan berbagai kekurangan yang ada di desa dan kampung-kampung yang kami kunjungi (misalnya kesulitan air, rumah-rumah keluarga yang tidak punya toilet, warga yang seharian hanya makan ubi, warga yang hanya bisa berjalan kaki walau teramat jauh jarak tempuh dan medan sulit, kampung yang belum ada listrik, dllnya), kami tidak merasa risih dan patah semangat. Malah sebaliknya realitas seperti ini menjadi peluang dan daya refleksif kami, untuk kami dapat memperkaya diri kami masing-masing agar menjadi seorang pribadi yang tangguh, kuat serta mempunyai daya kritis, kreatif dan inovatif yang tajam. Singkatnya, kami ditantang untuk menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan dapat dicontoh.

Kami menyadari bahwa kami mencintai almamater STPM Santa Ursula, karena di tempat ini kami dibentuk dan dididik menjadi seorang pribadi yang tangguh, yang dewasa, renda hati dan matang. Menjadi orang cerdas, sangatlah mudah, dapat dijumpai dimana-mana. Secara khusus saya berani mengatakan bahwa di NTT ini justru menjadi gudang yang melahirkan orang-orang cerdas. Tetapi menjadi orang yang rendah hati, mandiri dan integral, apalagi menjadi orang yang  berani menolak yang jahat dan berani menyuarakan kebenaran sangatlah sulit ditemukan. Bahkan terbanyak masyarakat terpelajar tidak sadar bahwa mulutnya sering kali disumbat dan daya kritisnya dipasung paksa. Sehingga yang ada terbanyak menjadi bungkam! Karena itu patut kami bersyukur bahwa di kampus ini kami dididik untuk menjadi orang yang rendah hati, bersikap kritis dan berani menolak yang jahat serta berani menyuarakan kebenaran. “Yang benar, harus dengan tanpa gentar diwartakan. Sedangkan yang salah harus dengan sikap tegas, “ditolak.”  Selain itu, kami diajarkan, juga dididik untuk menjadi seorang pribadi yang berbela rasa dan empati dengan masyarakat dan realitas sosial sekitar kami.

Karena itu, kami bangga bahwa STPM yang adalah kampus yang mengandung dan melahirkan kami menjadi Sarjana di bidang pembangunan sosial masa kini yang selalu tetap tampak mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakat akar rumput. Desa dan kampung adalah harta karun terindah yang tetap terjaga kemurnian dan keasliannya. Desa dan kampung yang adalah harta karun itu, telah dan akan tetap membuat kami menjadi pribadi kaum intelektual yang tangguh, mandiri dan integral. Dari desa dan kembali ke desa, itulah semboyan terkenal STPM yang pada akhirnya akan menciptakan sarjana-sarjana yang siap turun berdedikasi dan bekerja mengabdi di desa, secara professional dan bermartabat.

Keberhasilan kami hari ini juga tidak terlepas dari dukungan yang tak pernah henti dari orang tua dan keluarga kami, yang merupakan lingkungan pendidikan pertama dan terpenting bagi kami. Segala hal yang kami peroleh hari ini tidak terlepas dari kerja keras, kesabaran, kasih sayang dan doa restu mereka yang tulus. Semoga dengan kesadaran seperti ini, kami menjadi insan yang berbakti dan yang bertanggungjawab terhadap kemanusiaan dan lingkungan. Kami menjadi sarjana-sarjana yang tangguh dan bertahan demi menjaga nama baik orang tua dan keluarga, Almamater tercinta, agama, serta bangsa dan tanah air tercinta. Ayah bunda tersayang, rasanya baru kemarin kami di sini, menjadi peserta didik di kampus ini, setelah mencium tanganmu ketika berpamitan masa itu.

Baca Juga:  Itakanrai Kupang Ajak Warga Malaka Awasi BLT Agar Tidak Dikorupsi

Kami sadar, terkadang belum habis peluhmu kau sapu, sementara engkau harus bekerja lebih keras lagi. Sebidang tanah bahkan tak lagi tersisa, juga kerbau dan lembu peliharaan telah engkau jual, dahaga engkau tahan, cuma dengan seteguk air putih mungkin, lapar pun kadang engkau tutupi dengan sesuap nasi yang tersisa membiayai pendidikan kami, bahkan ayah bunda mungkin rela tidak makan, demi mengutamakan pendidikan kami. Tetesan air hujan turun dari langit tak kau hiraukan, engkau terus saja berupaya sekuat tenaga mencari nafkah, walau tak jarang engkau harus tetap saja berada di bawah terik mentari yang membakar ragamu sampai butiran-butiran keringat menetes dan membasahi tubuhmu yang kian usur. Itu semua adalah tekad sucimu demi anakmu tercinta, kami wisudawan/ti, yang diwisuda hari ini. Sungguh sangat tidak tahu berterimakasihlah kami jika kelak kami tidak bisa berbakti kepadamu dan membahagiakanmu. Apakah menjadi tekad kami, bahwa kebahagiaan hidupmu di hari tua nanti menjadi tanggung jawab nan mulia dari kami anak yang kau lahirkan, dan kau hantar sekolah sampai di tingkat sarjana seperti hari ini?

Baca Juga:  Istri Jadi Kades Taaba, Suami Sekdes, Paman Kandung BPD, Adik Bendahara; Ada Pembangunan “Rumah Hantu”

Waktu itu terus berjalan, baik secara linear maupun berbentuk spiral, dan kini kami telah dinobatkan sebagai seorang sarjana yang bermutu. Kami menyadari, terkadang kedua orang tua kami terkasih, butuh kesabaran lebih dalam menghadapi kami. Kami pernah gagal dan jatuh, bangkit, lalu jatuh dan bangkit lagi, kami tak pernah menyerah dan terbukti pantang mundur. Kami belajar dari kegagalan. Terlebih, berkat doa dan motivasi Ayah Bunda, akhirnya tibalah kami di penghujung masa studi di sini, di kampus STPM tercinta, engkaulah inspirasi kami, engkaulah maha guru, yang mendidik dengan tidak dibatasi tahun-tahun ajaran, yang membimbing dengan tidak menghitung besarnya biaya registrasi dari semester yang satu ke semester yang berikut, terima kasih Ayah dan Bunda.

Pada hari puncak keberadaan kami di almamater STPM tercinta ini, izinkanlah kami menitip surat cinta serta harapan yakni: “pertahankan dan tingkatkan kegiatan akademis yang berkewibawaan seperti kuliah lapangan, kegiatan abdimas, memotivasikan semangat wirausaha secara nyata, serta menjalin kerja sama dengan masyarakat akar rumput di desa secara berkelanjutan. Tingkatkan dedikasi dan kerja sama yang kritis konstruktif  dalam mendidik mahasiswa dan membesarkan STPM ini agar kemudian menjadi kampus yang besar, berwibawa, disegani dan bermartabat. Jadikan STPM ini sebagai IBU yang mengandung dan melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang siap berkompetisi secara sehat dan benar, baik ke dalam maupun ke luar dan dengan kecerdasan yang tinggi dan bermental tangguh memasuki dunia usaha dan kerja.

Sebagai seoarang sarjana yang meskipun belum sehari umurnya, kami siap terjun ke medan kerja di tengah masyarakat. Tapi kami pinta, doa dan sapaan dari almamater tercinta tetap terjaga dan terjalin rapih. Karena bagaimanapun kami adalah anak-anak yang dikandung dan dilahirkan olehmu. Sebalilknya kami berjanji akan tetap menjaga nama baik almamater dalam setiap tugas dan pekerjaan kami di tengah dunia dan masyarakat. Doa dan bantuan semampu kami akan tetap kami berikan dari kekurangan kami, sehingga ikatan cinta dan persaudaraan antara kami dan almamater tetap terjalin selamanya untuk mewujudkan Kampus STPM yang lebih besar, berwibawa, disegani, dan bermutu tinggi.

Tanpa bantuan almamater dan semua orang yang mencintai kami, perjuangan kami tidak akan berarti apa-apa. Kami hanyalah lilin kecil yang kami upayakan untuk tetap bernyala menerangi kegelapan intelektual dalam masyarakat plural dimana berkarya dan berbhakti. Di balik keberhasilan Kami saat ini, kami dituntut untuk berbagi ilmu pengetahuan yang diperoleh agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain, yaitu mereka yang secara langsung maupun tidak langsung ikut berkontribusi terhadap keberhasilan kami.

Kami menyadari bahwa manusia dilahirkan dalam ketidaksempurnaan. Dan kesempurnaan manusia adalah ketidaksempurnaan itu. Karena itu, tiada pantai yang tak berombak, tiada gading yang tak retak, tiada mawar yang tak berduri, kami wisudawan/ti menyadari diri sebagai yang tak luput dari cacat cela, titik-titik rawan kehidupan. Kini, dari ungkapan hati terdalam, kami meminta maaf kepada para dosen, pegawai, para suster, dan adik-adik mahasiswa serta semua undangan yang hadir atas semua kesalahan, kekeliruan kami, baik langsung maupun tidak langsung. Maafmu yang tulus kami minta, agar kami dapat mengayun langkah ringan dan pasti untuk mulai berjuang di medan kerja kami masing-masing.

Diakhir  sambutan ini, saya mengutip pernyataan Robert Kennedy sebagai berikut: “Dunia sekarang menuntut kualitas dari kaum muda: bukan sekadar sebuah tahap kehidupan tetapi sebuah cara berpikir, kehendak yang kuat, sebuah imaginasi yang bermutu, kekuatan keberanian yang mengatasi ketaksabaran, kemauan untuk berpetualang yang mengatasi pola hidup gampang.”

Jadikan Almamter sebagai ibu kandung yang selalu setia membimbing kita, bukan saja saat masih kuliah tetapi juga saat kita sudah hidup di masyarakat nanti. (*)

Oleh Bonefasius Zanda-Alumnus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula Ende.