GERNAS Baku dan Literasi Orang Tua

oleh -549 views
Mariano Sengkoen (Mahasiswa Program Pascasarjana Studi Ketahanan Nasional, Universitas Brawijaya)

OPINI, suluhdesa.com – GERNAS BAKU (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku untuk Anak) tahun 2019 telah berlangsung pada 27 Juli yang lalu (Detik.com, 27 Juli 2019).

Gernas Baku merupakan kegiatan berskala nasional yang dilakukan satu kali dalam setahun. Berbeda dengan kegiatan pertama yang dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2018 lalu, untuk tahun ini GERNAS BAKU dilaksanakan pada awal tahun pendidikan. Maka, momentum ini lebih bersifat motivasional, yakni sebagai contoh, bekal dan langkah awal perjalanan sepanjang tahun pendidikan. Itu berarti dibutuhkan kerberlanjutan GERNAS BAKU dalam rutinitas proses dan dinamika pendidikan setiap hari.

GERNAS BAKU merupakan bagian dari gerakan literasi nasional guna menumbuhkan minat baca dan kemampuan literasi anak usia dini melalui peran orang tua. Tujuannya adalah untuk membangkitkan, mendukung dan memperkuat inisiatif dan peran keluarga dalam menumbuhkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, sekolah dan masyarakat. GERNAS BAKU memang mesti dimaknai sebagai gerakan daripada sebagai kegiatan. Sebagai gerakan, GERNAS BAKU adalah perjuangan yang membutuhkan kesungguhan dan ketekunan.

Paling kurang, hasil survey PISA (Programme for International Student Assesment) tahun 2015 adalah salah satu pemantiknya. Data tersebut, yang menempatkan Indonesia pada posisi terbelakang dalam tingkat literasi, adalah potret sekaligus cambuk bagi perjuangan. Sekalipun kemudian muncul polemik, baik dalam hal metodologi, cakupan, intensi dan hasilnya, rilis data tersebut patut dijadikan motivasi gerakan bersama secara nasional. Sejak kemerdekaan, ikhtiar menghapus kebodohan sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa telah digagas, dicantumkan dan diamini sebagai salah satu item utama tujuan nasional. Data hasil survey PISA tersebut dapat sekedar menjadi cerminan dan alat ukur perjuangan mencapai ikrtiar mulia ini.

Dalam sebuah kajian tentang program literasi keluarga, Hannon mengemukakan bahwa anak-anak dengan kemampuan literasi yang lemah pada umumnya tumbuh dan atau dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan literasi yang lemah pula. Bahayanya, kondisi tersebut cenderung terwariskan lintas generasi (Hannon, 2003). Dengan kata lain, kondisi literasi adalah perihal jejak dan sekaligus langkah sejarah. Sebagai warisan sejarah, kondisi hari ini adalah hasil tindakan masa lalu. Sementara itu, kondisi masa depan adalah hasil perjuangan masa kini. Kondisi dan kemampuan literasi bukan hal yang bersifat taken for granted tetapi taken by doing.

Penelitian Sullivan dan Brown pada tahun 2015 membuktikan bahwa perkembangan dan atau pertumbuhan kemampuan literasi anak tidak berkorelasi dengan tingkat pendidikan orang tua. Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak menyelesaikan pendidikan tinggi tetapi membaca buku setiap hari ternyata empat kali lebih banyak mengunjungi perpustakaan dan membaca buku daripada anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang menamatkan pendidikan tinggi tetapi tidak mempunyai kebiasaan membaca setiap hari (Sullvian & Brown, 2015). Temuan ini mempertegas asumsi bahwa pembentukan kebiasaan dan kemampuan literasi anak lebih bergantung pada pembiasaan kegiatan membaca yang dilakukan orang tua.

Dalam prakteknya, GERNAS BAKU dimplementasikan dalam kegiatan orang tua membacakan buku kepada anak di berbagai satuan PAUD seluruh Indonesia. Secara tersirat, hal tersebut berarti bahwa orang tua mesti mempunyai minat, kebiasaan dan kemampuan membaca. Karenanya, GERNAS BAKU pertama-tama mesti diartikan sebagai gerakan untuk menumbuhkan minat, kebiasaan dan kemampuan membaca orang tua. Hal-hal tersebut adalah modal penting bagi keberlanjutan GERNAS BAKU. Secara sederhana, minat akan berkorelasi dengan ketekunan; kebiasaan dengan intensistas dan kemampuan dengan kualitas.

Baca Juga:  Komunitas Literasi Padi Rayakan Valentine’s Day Bersama Anak-Anak

Dalam rangka menjamin keberlanjutan GERNAS BAKU, ketiga hal tersebut mesti menjadi langkah awal intervensi. Hal ini mengingat posisi dan peran sentral orang tua dalam keberhasilan pencapaian sasaran gernas baku. Anak relatif lebih banyak dan berhasil belajar dari orang tua. Hal ini tentu dipengaruhi oleh faktor-faktor personal seperti intensitas kebersamaan, kedekatan afeksi-emosional dan kepercayaan. Maka, dalam kegiatan sosialisasi, diskusi, seminar dan parenting (sebagaimana ditetapkan dalam PANDUAN GERNAS BAKU 2019), ketiga hal tersebut mesti ditanamkan secara kuat kepada orang tua. Sebab, sasaran terakhir dari GERNAS BAKU tidak diukur dari suksesnya kegiatan pada hari pelaksanaan kegiatan, namun pada apa yang dilakukan oleh orang tua setelahnya. Dengan cara itu, GERNAS BAKU tidak mubazir sebagai euforia kolosal semata.

Oleh karenanya, tentu dibutuhkan pergeseran fokus ke posisi dan peranan orang tua. GERNAS BAKU sebenarnya membuka peluang untuk mendorong gerakan literasi orang tua secara spesifik. Dalam GERNAS BAKU, orang tua menempati posisi dan memainkan peran sebagai poros literasi keluarga. Dengan melihat urgensi minat, kebiasaan dan kemampuan membaca orang tua, perlu digagas langkah pemberdayaan orang tua dalam hal literasi.

Beberapa hal berikut dapat diajukan sebagai sumbangan pikiran.

Pertama, edukasi kepada orang tua tentang peran sentral orang tua dalam keberhasilan pendidikan dan masa depan anak. Survey Varkey Foundation pada tahun 2018 mencatat 86% dari 1000 responden orang tua di Indonesia berpandangan bahwa lingkungan sekolah telah mempersiapkan secara baik masa depan anak-anak. Persentase tersebut berada cukup jauh di atas rata-rata penilaian global yang hanya berada dalam angka 64%. Data ini menunjukkan tingkat kepercayaan orang tua yang relatif besar terhadap lembaga pendidikan yang mendidik anak-anak mereka. Kepercayaan yang besar itu membawa kegelisahan perihal mispersepsi orang tua tentang posisi dan peranannya dalam pendidikan dan masa depan anak. Akibatnya, orang tua rentan menganggap bahwa proses dan kegiatan pendidikan anak hanya berlangsung di sekolah. Padahal, jika dikalkulasi akan jelas terlihat bahwa anak-anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dalam dan atau sekitar lingkungan rumah. Itu berarti bahwa kesempatan dan frekuensi kegiatan pendidikan (termasuk dalam hal literasi dan penumbuhan minat baca) anak lebih besar dimiliki oleh orang tua.

Baca Juga:  Mahasiswa dan Seluruh Anak Muda NTT Harus Membaca Buku

Kedua, pelatihan dan pendampingan bagi orang tua tentang metode sederhana dalam menumbuhkan minat baca dan sekaligus memperkuat kemampuan literasi anak. Kesempatan dan frekuensi dalam hal kebersamaan orang tua dengan anak-anak di rumah mesti diisi dengan langkah-langkah strategis yang tepat sasar dan berkualitas. Upaya menumbuhkan minat baca dan memperkuat kemampuan literasi anak mesti dilakukan dengan cara-cara yang benar. Hal-hal mendasar, seperti pengetahuan tentang perkembangan psikologis, pendekatan bahasa, ambang kemampuan intelektual anak dan lain-lain, penting untuk diketahui oleh orang tua. Mengabaikan hal-hal tersebut dapat menyebabkan kerengangan, kengganan bahkan antipati anak-anak terhadap kegiatan membaca. Bahkan, pengabaian tersebut juga dapat merusak proses perkembangan mental, kognisi dan kecerdasan sosial anak. Sebaliknya, pengetahuan tentang keterampilan tersebut juga akan sangat bermanfaat bagi orang tua dalam membentuk iklim membaca yang kondusif di rumah,  misalnya perihal mengatur waktu membaca, membuat pojok baca atau perpustakaan mini untuk anak-anak.

Ketiga, pengawasan dan evaluasi yang serius terhadap implementasi kegiatan membaca di rumah. Menumbuhkan minat, membangun kebiasaan dan mendorong kemampuan membaca sejatinya diletakan dalam kerangka program literasi bersama. Maka perlu dibuat rencana aksi dan peta gerakan sebagai pegangan, tuntunan dan jaminan gerakan literasi orang tua. Di dalamnya bisa diatur tentang jenis-jenis kegiatan individual (masing-masing orang tua dan anak) dan kegiatan bersama sebagai variasi dan pengayaan. Implementasinya mesti terus dikawal dan diawasi guna memastikan keberlangsungan program literasi bersama tersebut. Selanjutnya, perlu dibuat evaluasi berkala dengan menggunakan instumen yang jelas dan terukur. Selain untuk menakar kadar produktivitas dan progresnya, evaluasi dibutuhkan untuk memperoleh masukan dan umpan balik sebagai bekal untuk merancang langkah dan upaya ke depan. Model implementasi yang demikian tentu membutuhkan sinergitas, integritas dan komitmen yang teguh. Hal itu tentu merupakan kewajaran, sebab upaya pencerdasan kehidupan manusia dan bangsa, termasuk anak-anak, bukanlah hal remeh yang hanya perlu dipandang sebelah mata.

Baca Juga:  Arnoldus Wea : Kaum Milenial Harus Ingat Kampung, Pulang Kampung, dan Bangun Kampung

Dalam rangka pemberdayaan orang tua ini, lembaga PAUD sebagai eksekutor harian GERNAS BAKU dapat dan perlu membangun kerjasama dengan pemerintah daerah dan desa, lembaga pendidikan tinggi, lembaga-lembaga penelitian, NGO, kelompok profesi, pegiat literasi dan pihak-pihak lainnya. Ringkasnya, upaya pemberdayaan orang tua ini butuh kerjasama lintas sektor dan multi sektor dalam pola kerja kemitraan. Pola kerja kemitraan dianggap relevan dan urgen karena beberapa alasan berikut. Pertama, identifikasi dan penentuan target dan sasaran akan lebih akurat dan berhasil karena adanya pendekatan dan perspektif yang beragam. Kedua, akan terjadi pengayaan kreatifitas dalam intervensi dan eksekusi. Ketiga, kekayaan kreatifitas tersebut cenderung meningkatkan keberhasilan penanggulangan masalah secara kuantitatif maupun kualitatif. Keempat, kemitraan mendorong partisipasi lebih banyak ide dan sumber daya. Kelima, akan terbangun sinergitas dan efek kumulatif yang cenderung berdampak komprehensif. Dengan menerapkan pola kemitraan diharapkan akan terwujud peningkatan kualitas pemberdayaan orang tua dalam hal membaca secara intensif dan ekstensif. Hal ini pada gilirannya akan menjamin keberhasilan GERNAS BAKU.

Literasi merupakan episentrum kemajuan kebudayaan dan perdaban. Dalam hal mempersiapkan masa depan anak-anak yang lebih baik, keberadaan dan peranan orang tua mesti dipertegas. GERNAS BAKU membuka jalan bagi pergeseran fokus dan paradigma tersebut. Orang tua perlu didorong untuk menjadi poros literasi keluarga. Demi pencapaian sasaran dan tujuannya, tentu dibutuhkan keberlanjutan GERNAS BAKU melalui pemberdayaan orang tua sebagai pejuang literasi bagi anak-anaknya.

Oleh: Mariano Sengkoen*

*Mahasiswa Program Pascasarjana

Studi Ketahanan Nasional, Universitas Brawijaya

SUMBER RUJUKAN

Hannon, P., 2003. Family Literacy Programme, dalam Hall, N., Larson, NJ., & Marsh, J., (eds), Handbook of Early Childhood Literacy Research. London: Sage, 2003.

Sullivan, Dr. Allice & Brown, Mr. Matt, 2015. Reading for Plesure and Progress in Vocabulary and Matematics, dalam British Educational Research Journal, Vol.41 No 6.

Hannon P (2003) Family literacy programmes. In: Hall N, Larson NJ and Marsh J

(eds) Handbook of Early Childhood Literacy Research. London: Sage, pp. 99–111

Hannon P (2003) Family literacy programmes. In: Hall N, Larson NJ and Marsh J