Catatan Cinta dari Misionaris Untuk 50 Tahun STFK Ledalero

oleh -1.109 views
Pater Sil Ule, SVD

TOKOH, suluhdesa.com – Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero akan merayakan 50 tahun. Denyut persiapan terasa di kejauhan.

Setelah sedikit berkelana, saya sadar bahwa seorang yang mau membanggakan Ledalero, tentu mesti mawas diri sekurang-kurangnya dalam dua hal. Pertama, bangunannya tidaklah megah, walau tetap indah untuk ukuran Flores. Saya temukan sebuah sekolah tidak terkenal di Jakarta, yang bangunannya beberapa kali lebih megah dari Ledalero, dengan ruangan seindah hotel Sylvia. Ledalero konon banyak dirugikan dalam akreditasi, bukan karena kualitas manusia, namun karena kualitas dan keterbatasan prasarana fisik.

Kedua, Ledalero didirikan di Flores, yang secara ekonomi dianggap jadi salah satu yang paling tidak menguntungkan di Indonesia. Jika anda berada di kota metropolitan, penilaian ekonomi sering jadi rujukan bagi pelbagai penilaian lain. Segala sesuatu dari tempat yang tidak menonjol secara ekonomi seperti Flores bisa saja dianggap kelas tiga, termasuk Ledalero.

Namun, di tengah keterbatasannya, ada sisi positif dari kedua situasi ini. Keterbatasan fisik membuat alumnus sekolah ini berusaha membuktikan diri dalam substansi. Gedung sekolah boleh sederhana, tapi filsafat dan teologi mesti mendalam dan berprespektif global. Dalam batas tertentu hal ini jadi sebentuk tekad dan idealisme.

Baca Juga:  Misi Kepada Umat, Kaum Religius Tidak Cukup Berdoa Dalam Biara

Selain itu Flores boleh miskin secara ekonomi, namun alumnus-alumnusnya justru membuktikan bahwa umat Flores kaya secara spiritual. Hasilnya ialah para biarawan, biarawati, imam dan misionaris, yang bukan hanya membawa perubahan ekonomi, namun perubahan jiwa dan struktur sosial di daerah misi. Ada daerah-daerah yang kehilangan harapan, baik secara sosial dan politik. Di tempat-tempat seperti itu, ada banyak misionaris, yang mungkin tidak memberikan banyak bantuan ekonomi, namun hadir memberikan harapan untuk berkanjang di tengah situasi yang musykil. Sekolah ini telah membentuk sejarahnya sendiri, di mana ia mungkin tidak bicara dalam konteks politik lokal dan nasional, namun bicara dalam konteks misi global dan internasional.

Baca Juga:  Viktor dan Jos; STFK Ledalero Harus Menjadikan SDM Orang NTT Berkarakter

Namun, tentu di tengah pelbagai prestasi, tantangan Ledalero kiranya makin kompeks. Beberapa bisa disebutkan.

Pertama, situasi dunia dan situasi misi sebagian besar tidak seindah teologi sistematis; banyak situasi anarki, juga banyak perubahan yang tak pasti. Mampukah lembaga ini tetap membentuk manusia-manusia pejuang, yang bisa tenang dalam situasi damai, namun juga bertahan di tengah pelbagai anomali dan krisis?

Kedua, misionaris bukan hanya pewarta Sabda, namun sering harus punya kepandaian tekhnis; sebagai montir, sopir, dokter, akuntan, tukang bangunan atau konselor psikologis. Apakah pelbagai hal tekhnis ini, termasuk penguasaan tekhnologi informasi, juga dipersiapkan secara sistematis dalam masa studi dan formasi?

Ketiga, STFK juga menghasilkan bukan hanya para misionaris, namun awam, yang juga bergulat dengan situasi sosial, ekonomi dan politik lokal dan nasional. Jika para misionaris berbuat sesuatu di tanah misi, bagaimana sebagai sebuah sekolah, Ledalero (dan alumnus laiknya) membawa perubahan politik dan ekonomi di wilayahnya sendiri, di Flores atau Indonesia? Dan seterusnya.

Baca Juga:  Uskup Larantuka Tahbiskan Tujuh Imam SVD: Melayani Umat adalah Kewajiban

Di tengah banyak tantangan, tetap ada banyak hal yang patut disyukuri menjelang usia emas ini. Walau saya yakin bukan contoh yang baik, dan ada juga cerita-cerita gagal dari para misionaris, namun saya bisa saksikan atau dengar para misionaris Indonesia yang sebagian besar bekerja dalam semangat kesederhanaan, kerendahan hati dan pengorbanan yang mengagumkan. Ada daerah misi yang sedemikian sulit dan sering dihindari, namun para misionaris kita bersedia hidup dan bekerja, tanpa banyak syarat dan keberatan (seperti Kornelis Jogo Puka atau kawan kelas saya Fridus Binsasi di Amerika Latin). Mungkin inilah imaji misionaris yang telah dan sebaiknya tetap dibentuk: misionaris yang sederhana, mampu berkorban, yang berkanjang dalam pelbagai kesulitan dan anomali, yang mungkin tidak memberikan apa-apa, selain hal yang paling berharga bagi umat di tanah misi: kehadiran dan “hati”.

Akhirnya, Ledalero diterjemahkan sebagai “tempat sandar matahari”. Usia 50 adalah masa senja untuk manusia, namun seakan fajar bagi sebuah lembaga. Dengan segenap perjuangan dan keseriusan di tengah pelbagai keterbatasan, kita harapkan bahwa kiranya di timur, matahari selalu bercahaya. (*)

Oleh ; P. Sil Ule, SVD (Misionaris SVD di RDC Kongo-Afrika)