Arnoldus Wea : Kaum Milenial Harus Ingat Kampung, Pulang Kampung, dan Bangun Kampung

oleh -1.774 views
Arnoldus Wea: -Co-Founder Yayasan ArnoldusWea, Co Founder Gerakan Dhegha Nua.

TOKOH, suluhdesa.com – Banyak kalangan menyebut anak-anak muda zaman now sebagai generasi millennial. Generasi ini lahir setelah zaman generasi  X, atau tepatnya  pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000-an. Jadi dapat diperkirakan bahwa saat ini generasi millennial memiliki rentang usia 17 hingga 37 tahun. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 80 juta orang yang berusia antara 17 hingga 37 tahun.  Jumlah tersebut sangat banyak dan signifikan, mengingat populasi generasi millennial sudah mencakup 30 persen dari total penduduk di Indonesia.

Generasi millennial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia, sehingga wajar apabila generasi ini lebih melek teknologi dibanding generasi-generasi sebelumnya. Ada pula perbedaan lain yang muncul antara generasi millennial dengan generasi-generasi sebelumnya, yaitu terkait dengan masalah budaya/ gaya hidup sehari-hari. Ada kecenderungan bahwa generasi millennial lebih suka mendengarkan musik dan hang out asik bersama teman-temannya. Maka tak mengherankan bila banyak kafe atau tempat nongkrong lainnya yang ramai dikunjungi anak muda zaman now, karena itulah kehidupan sosial mereka. Bahkan terkesan cuek alias malas tahu dengan situasi atau pun keadaan sekitarnya.

Selain karakteristik yang sudah dijelaskan di atas, generasi millennial juga memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat, di mana anak muda zaman now dapat berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan dunia. Arus globalisasi berhasil menciptakan interaksi langsung dan tidak langsung yang lebih luas antar umat manusia, yang tidak mengenal batas-batas maupun sekat antara negara satu dengan negara yang lain.

Oleh sebab itu, globalisasi membuat generasi millennial menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan, wawasan mereka terhadap keberagaman pun menjadi lebih luas sehingga timbul sifat toleran yang cukup tinggi dari generasi ini.

Nah, apabila melihat berbagai karakteristik yang dimiliki generasi millennial, tampaknya kehidupan dari generasi ini sungguh terjamin dan menyenangkan. Bagaimana tidak, kemajuan teknologi yang pesat, kehidupan yang super dinamis, dan perkembangan alat telekomunikasi telah membantu mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sering tidak kita sadari bahwa dunia ini semakin kejam dan penuh dengan tantangan baru yang harus dihadapi.

Baca Juga:  Mahasiswa dan Seluruh Anak Muda NTT Harus Membaca Buku

Tingginya tingkat mobilitas antar negara sebagai dampak dari globalisasi dan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 menyebabkan persaingan untuk dapat survive di dunia ini menjadi lebih keras. Belum lagi ditambah dengan naiknya tingkat inflasi yang terus terjadi dari tahun ke tahun, yang menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok menjadi lebih mahal dan sulit dijangkau.

Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, generasi millennial di Indonesia tidak boleh kalah dalam persaingan dengan anak-anak muda dari negara lain. Pendidikan yang tinggi saja ternyata tidak cukup, anak muda Indonesia yang kekinian harus dibekali dengan berbagai pengalaman dan soft skills yang baik. Nah, menjadi pribadi yang kreatif, aktif, dan inovatif tentu harus dimiliki dalam jiwa anak muda.

Salah satunya datang dari sosok millennial yang tampan bernama Arnoldus Wea. Pria kelahiran Aimere , Flores, pada 9 Oktober 1982 putera bungsu Almarhum Hendrikus Keo dan Maria Goreti Bhoki ini selain sukses sebagai pengusaha perkebunan kelapa sawit yang berpusat di Bengkulu, Arnoldus Wea sapaan manisnya juga seorang  Konsultan Legal bidang Pertambangan Batubara dan Mineral di beberapa Perusahaan Nasional &Multinasional, dan Co-Founder Yayasan ArnoldusWea.

Arnoldus Wea adalah Co-Founder Gerakan DHEGHA NUA. Sebuah gerakan sosial yang mengajak para perantau millennial atau siapa pun yang berada di perantauan untuk selalu membangun desa atau kampung halaman dari mana dirinya berasal dan berada.

Kepada Media SULUH DESA lewat pesan Whatsapp pada Rabu (28/8/19) pukul 10.00 wita, Arnoldus Wea mengungkapkan jika beberapa waktu lalu belum lama ini, dirinya tidak sengaja menonton pidato Wendell Berry’s di Northern Kentucky University. Wendel Berry’s melemparkan sebuah pertanyaan yang kira-kira dapat diterjemahkan seperti ini, Apakah mungkin kita bisa menjadi warga negara yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab jika menganut konsep pulang kampung daripada keinginan untuk melakukan mobilitas ke kota?

Arnoldus Wea menjelaskan jika Berry, penulis dan petani Kentucky itu, mengajukan istilah “homecomer” untuk menggambarkan orang-orang yang telah menghabiskan beberapa waktu, biasanya untuk mengejar peluang yang lebih baik di kota, dan kemudian memilih untuk kembali ke pedesaan, akar kehidupan mereka.

Baca Juga:  Forum BUMDES NTT Ajak Desa Dirikan Posko Covid-19 dan BLT Harus Tepat Sasaran

“Lalu, pada kesempatan yang lain, beberapa kolega dekat saya memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya— awalnya saya tidak mengerti mengapa ada orang yang ingin meninggalkan tempat yang sangat berarti bagi mereka—terlebih oleh pekerjaan yang telah menghidupi mereka, lengkap dengan keberkahan materi yang lebih dari cukup. Tetapi, lambat laun, saya mulai menyadari sesuatu, bahwa kampung halaman sebetulnya merupakan perwujudan dari identitas kita. Sebuah rumah dan inkubator yang membantu membesarkan kita. Dan jelas, kita amat berhutang untuk itu,” ungkap Arnoldus Wea.

Arnoldus Wea menerangkan bahwa ada dua situasi dialaminya seperti di atas membuatnya merenung cukup lama dan akhirnya mendapati sebuah poin kunci yakni “pulang kampung”.

“Saya mencoba mendefinisikan “pulang kampung” ini dengan banyak hal, tetapi yang saya yakini secara pasti bahwa pulang tidak berarti selalu menetap tetapi lebih dari pada itu bagaimana “kepulangan” itu dapat menjadi bernilai. Latar belakang pemikiran di atas yang kemudian mendorong saya mendirikan sebuah gerakan sosial DHEGHA NUA,” Arnoldus Wea menuturkan.

Lebih jauh pria yang memiliki istri cantik bernama Marcella Anastasia  ini menceritakan, jikalau dalam Bahasa Indonesia, secara harafiah, Dhegha Nua yang diambil dari bahasa daerah Ngada adalah ingat kampung, tetapi, dirinya ingin memberi bobot lebih sebagai  sebuah gerakan rindu kampung halaman.

Baca Juga:  Kedudukan Fungsi dan Tugas Badan Permusyawaratan Desa

“Saya percaya, perasaan rindu akan menjadi penggugah bagi kita untuk pulang dan juga menjadi awal bagi kita untuk mau mau membantu proses pembangunan di kampung halaman. Tepat di situ, menurut saya kepulangan memiliki nilai yang penting. Saya juga percaya kampung selalu menjadi titik awal pembentukan karakter manusia sejak usia bayi, anak anak, remaja sampai usia dewasa sehingga, program gerakan DHEGHA NUA yang merupakan gerakan kemanusiaan memiliki program unggulan sebagai produk derivatnya,” kata Arnoldus Wea.

Program itu berupa pembangunan karakter anak usia sekolah melalui pengadaan kegiatan training beberapa bidang ketrampilan, bantuan seragam sekolah, alat tulis serta biaya sekolah untuk anak tidak mampu, menjamin ketersediaan alat pendukung belajar mengajar di sekolah, dan pada akhirnya berupa pengembangan metode pengajaran.

Di bidang lain, gerakan ini berperan mendorong pembangunan berbagai komunitas berbasis ekonomi kreatif yang dipelopori oleh anak muda, ibu rumah tangga, kelompok guru maupun komunitas adat.

“Sebab kami percaya, karakter individu dapat tumbuh dan terbentuk oleh proses kreatif yang terjadi di sekelilingnya,” pungkas Arnoldus Wea.

Arnoldus Wea sebagai co-founder gerakan DHEGHA NUA yakin dan percaya bahwa gerakan ini akan menarik banyak orang muda yang rindu akan kampung halamannya untuk bisa berpartisipasi, membuka ruang untuk itu sebesar-besarnya bagi siapa pun (kaum muda) yang ingin bergabung.

Masing-masing mungkin akan memiliki nama dan caranya masing masing untuk berbuat bagi kampung halamannya tapi tujuan kita sama yakni membangun Indonesia, tepat dari dasar eksistensi kita.

“ini adalah upaya lain dari saya untuk berbagi informasi sehingga minimal dapat menggerakan banyak orang, sekaligus menjadi cara kecil saya untuk mendukung pembangunan literasi yang terus digaungkan oleh stakeholder yang ada di masyarakat Nusa Tenggara Timur,” tutup Arnoldus Wea yang pernah bercita-cita menjadi aktor terkenal di masa kecilnya.

Anda dapat mengetahui seluruh berita maupun kegiatan dari gerakan Dhegha Nua ini di website pribadi http://arnolduswea.com/ dengan tagline DHEGHA NUA. (Frids Wawo Lado)