Rujukan Bumil Dari Puskesmas Maukaro Ditolak RSUD Ende Menyebabkan Bayi Meninggal

oleh -241 views
kekesalan MM memuncak dengan menyobek Surat Rujukan dari Puskesmas Maukaro.
kekesalan MM memuncak dengan menyobek Surat Rujukan dari Puskesmas Maukaro

ENDE, suluhdesa.com – Buruknya pelayanan kesehatan kepada masyarakat masih menjadi sorotan dan keprihatinan publik.

Keluhan dan keprihatinan sering datang dari Ibu Hamil (bumil) yang mengalami sering berhadapan dengan maut saat menjalani proses persalinan dengan berbekal surat rujukan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada di kecamatan.

Teranyar, pengalaman dialami seorang bumil berinisial MR asal desa Kobaleba, kecamatan Maukaro, kabupaten Ende.

Kronologi

Pada Selasa, (13/8/19), atas saran dan rekomendasi bidan desa (bides) yang bertugas di desa, bumil MR dan suaminya, MM lalu menuju Puskesmas Maukaro untuk menjalani persalinan.

Oleh karena Puskesmas Maukaro saat ini sedang dalam proses renovasi, maka bumil dan keluarga hanya bertahan di salah satu ruangan di kantor Camat Maukaro selama dua hari dan dua malam. Selama bertahan di ruangan tersebut, suami dari ibu hamil mengeluhkan pelayanan petugas medis yang terkesan tidak becus dan tidak profesional meski istrinya sempat mengeluhkan sakit sebagaimana lazimnya dialami oleh ibu hamil.

Menurut penuturan suami dari bumil, selama dua hari dan dua malam bertahan di ruangan sementara tersebut, Dokter Arief yang sedang bertugas dan para petugas medis di Puskesmas Maukaro, belum membuat Surat Rujukan kepada ibu hamil untuk menjalani proses persalinan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende.

Pada Kamis (15/8/19) pukul 11.30 Wita, keluarga ibu hamil baru mendapat Surat Rujukan guna menjalani operasi persalinan dan steril kandungan di RSUD Ende. Surat Rujukan tersebut dibuat dan ditandatangani oleh Dokter Arief dan suami dari ibu hamil, MM.

Baca Juga:  Jadikan Olahraga Sebagai Gaya Hidup

“Kami baru terima Surat Rujukan pada siang hari sehingga langsung menuju Ende. Sebagai suami, saya cukup panik dengan kondisi isteri saya yang beberapa kali mengeluh sakit. Namun, dalam hati saya tetap kuat dan percaya dengan pertimbangan medis,” ungkap MM saat dikonfirmasi media ini.

Dalam perjalanan menuju RSUD Ende, ibu hamil mengeluhkan rasa sakit bersalin. Keluarga lalu memutuskan untuk bertahan di Puskesmas kecamatan Nangapanda. Berkat bantuan dan pelayanan medis, sekitar pukul 14.15 Wita, ibu MR akhirnya menjalani proses persalinan di Puskesmas Nangapanda secara normal. Meski demikian, MM khwatir dengan kondisi ibu dan bayi pasca-persalinan yang termasuk kategori bayi inkubasi karena berat badan 2,1 kilogram sehingga secara medis, bayi harus mendapat perawatan darurat.

Berkat saran petugas medis di Puskesmas Nangapanda, tak lama kemudian, ibu beserta bayi dan suami lalu melanjutkan perjalanan menuju RSUD Ende dengan harapan mendapat perawatan lanjutan sesuai Surat Rujukan dari Puskesmas Maukaro.

Penolakan oleh RSUD Ende

Setelah tiba di RSUD Ende pukul 15.25 Wita, berbekal Surat Rujukan dari Puskesmas Maukaro, suami MM lalu berkonsultasi dengan Dokter di RSUD Ende agar ibu dan bayi mendapat perawatan lanjutan. Namun, pihak dokter di RSUD Ende berdalih dan menolak permohonan MM.

Diterangkan ayah bayi, Dokter mengatakan bahwa Surat Rujukan dari Puskesmas Maukaro sudah tidak berlaku, dengan alasan persalinan terjadi ‘di luar’ (Puskesmas Nangapanda, red).

Baca Juga:  Loka Karya Di Puskesmas Betun Bahas Kesehatan Ibu Dan Anak

“Dokter mengatakan bahwa waktu sudah lewat dan Surat Rujukan tidak berlaku lagi. Sehingga untuk perawatan lanjutan di RSUD Ende, ibu dan bayi yang baru dilahirkan itu tergolong pasien umum dengan beban biaya ditanggung oleh pihak keluarga. Untuk perawatan bayi dikenai biaya Rp 300.000 per malam, sementara untuk ibu dikenai biaya Rp 600.000 per malam,” kata MM.

Sementara orang tua bayi yang berlatar belakang petani itu mengaku, dengan segala keterbatasan biaya perawatan, ia berharap mendapat jaminan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dimiliki. Merasa ditolak oleh pihak RSUD Ende dan mengabaikan keselamatan ibu dan bayinya, kekesalan MM memuncak dengan menyobek Surat Rujukan dari Puskesmas Maukaro.

Ironisnya, meski pihak keluarga bayi sempat mengaku tidak menyanggupi biaya perawatan seperti yang disampaikan, namun petugas medis yang menemui keluarga bayi di RS itu terkesan ‘merayu’ agar perawatan bisa terjadi di RSUD Ende.

Menginap di Rumah Keluarga

Setelah tidak mendapat tanggapan dari pihak RSUD Ende, ayah, ibu dan bayi yang baru dilahirkan itu memutuskan untuk bertahan menginap di rumah keluarganya di Woloare selama 2 malam dan 2 hari. Karena kesulitan untuk mendapatkan akses dan jaminan perawatan dan kesehatan kepada ibu dab bayi, keluarga lalu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman pada Jumat (16/8/19).

Karena menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan medan yang buruk sepanjang pantai utara, kondisi bayi mulai mengalami demam tinggi dan suhu badan meningkat. Pada Sabtu pagi (17/8), MM laku berkonsultasi dengan bides, HS, terkait kondisi bayinya. Oleh bidan, disarankan ke Puskesmas Maukaro guna mendapat perawatan.

Baca Juga:  DPD II Golkar Malaka Cegah Covid-19, Bagikan Masker dan Makanan untuk Warga di Desa-Desa

Bayi Meninggal Sebelum Rujukan Perawatan

Dokter Arief yang bertugas di Puskesmas Maukaro lalu membuat Surat Rujukan perawatan agar bayi dirawat di RSUD Ende dengan alasan peralatan yang miliki sangat terbatas. Keluarga merasa keberatan karena berangkat dari ketidakjelasan jaminan Rujukan soal persalinan yang sudah ditolak oleh pihak RSUD, lagipula dengan pertimbangan kondisi bayi yang sedang menderita demam tinggi.

Keluarga yang memilih pasrah dengan situasi yang dihadapi, berharap perawatan intensif dari tenaga medis di Puskesmas Maukaro. Namun naas menimpa bayi malang itu hingga akhirnya meninggal dunia pukul 19.40 Wita.

Ketidakpastian Jaminan KIS

Dengan musibah yang dialaminya, kepada media ini keluarga bayi mengaku prihatin dengan profesionalitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Maukaro yang terkesan sangat buruk bahkan tidak ada tindakan emergensi darurat oleh Kepala Puskesmas Maukaro yang baru, Jacob Ndore.

Keluarga juga menuturkan bahwa kepemilikan KIS justru dipersulit dengan pelbagai persyaratan administratif bahkan mengabaikan sisi kemanusiaan yaitu keselamatan ibu dan bayi baik proses persalinan hingga perawatan intensif.

Keluarga dari bayi malang tersebut mengaku, kejadian serupa bukan pertama kali terjadi di wilayah kecamatan Maukaro, melainkan sudah beberapa bayi yang akhirnya meninggal dunia.

Beberapa tokoh masyarakat di desa Kobaleba bahkan mendesak agar Kepala Puskesmas Maukaro dicopot dan para tenaga medis yang tidak becus dalam melayani pasien segera diberhentikan atau dimutasi.

“Kejadian ini bukan pertama kali terjadi, miris dan prihatin. Ini menunjukkan bahwa kinerja tenaga medis di daerah tidak mampu bekerja optimal dalam melayani kesehatan masyarakat yang mayoritas adalah petani, kelas bawah. Jika tidak dibenahi secara serius, maka ke depan, pasien akan mengabaikan syarat-syarat administrasi yang berbelit-belit lalu mengabaikan keselamatan. Jangan sampai kesehatan masyarakat kecil dipersulit,” kecam Wolfgang. (vrg/vrg)