Inilah Profil Kemiskinan NTT Sampai Posisi Maret 2019

oleh -253 views

Kupang- SULUHDESA.COM – Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik(BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan konsep kebutuhan dasar ( basic needs approach). Hal ini disampaikan kepala Badan Pusat Statistik(BPS) Provinsi NTT Maritje Patiwaellapia pada konferensi pers di kantor BPS NTT ,Senin 15/7/2019.


Menurutnya dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskiban ( makanan dan bukan makanan).


Maritje mengatakan presentase penduduk miskin pada maret 2019 sebesar 21,09 persen, meningkat 0,06 persen poin terhadap september 2018 dan menurun 0,26 persen poin terhadap maret 2018.


“Jumlah penduduk miskin pada maret 2019 sebesar 1.146,32 ribu orang, meningkat 12,21 ribu orang terhadap september 2018 dan meningkat 4,15 ribu orang terhadap maret 2018,” jelasnya

Lebih lanjut Maritje mengatakan faktor-faktor yang terkait dengan tingkat kemiskinan di NTT adalah nilai tukar petani ( NTP) pada maret 2019 turun sebesar 1,60 persen dibanding September 2018, yaitu dari 107,35 menjadi 105,63.
Penurunan ini disebabkan oleh harga produksi pertanian menurun, sedangkan harga konsumsi petani meningkat. Selain itu selama periode September 2018- Maret 2019, inflasi umum cukup tinggi yaitu sebesar 2,02 persen. Bahan makanan merupakan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar yaitu naik sebesar 4,17 persen.

Sedangkan inflasi di wilayah perdesaan yang dicerminkan dari perubahan indeks konsumsi rumah tangga pada periode September 2018- Maret 2019 menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu mencapai 2,19 persen.
Dijelaskan juga bahwa ekonomi Provinsi NTT triwulan 1-2019 dibanding triwulan IV-2018 mengalami kontraksi sebesar -5,62 persen. Hanya 2 dari 17 lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan yaitu jasa keuangan dan asuransi(2,89 persen) dan industri pengolahan(0,02 persen). Juga tingkat penganggurn terbuka pada Februari 2019 sebesar 3.10 persen mengalami kenaikan dibanding Februari 2018 dan Agustus 2018 dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,12 persen poin dan 0,09 persen poin.


Lebih lanjut Maritje juga menyampaikan rata-rata pengeluaran perkapita per bulan untuk penduduk yang berada di 40 persen lapisan terbawah selama peiode September 2018-Maret 2019 tumbuh 2,15 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan kenaikan garis kemiskinan pada periode yang sama sebesar 3,85 persen.

Sementara itu selama September 2018-Maret 2019 garis kemiskinan naik sebesar 3,85 persen, yaitu dari Rp.360,069 perkapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp.373.922 perkapita per bulqn pada Maret 2019. Peranana komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Pada Maret 2019 komoditi makanan menyumbang sebesar 78.17 persen pada garis kemiskinan. (Vir)