Manfaatkan Potensi Air, Kepala Desa Ini Menyulap Desa Ponggok Menjadi Desa Wisata

oleh -893 views
Kades Junaedi Mulyono
Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono (Foto: Boombastis.com)

KLATEN, suluhdesa.com – Pemimpin itu harus mewarisi kepemimpinan. Kepemimpinan itu luas cakupan maknanya. Secara sederhana kepemimpinan itu harus menginspirasi baik kepemimpinan itu sendiri maupun karya-karya kepemimpinan itu sendiri.

Negeri ini telah melahirkan banyak tokoh inspiratif. Entah itu tokoh dalam ruang lingkup kecil (skala desa) hingga ruang lingkup yang luas (skala nasional). Salah satu tokoh atau inspirator saat ini adalah Junaedi Mulyono,  Kepala Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Apa alasan tokoh ini disebut sebagai inspirator? Seperti yang dilansir dari media boombastis.com yang dikutip dari  nasional.tempo.co, dirinya menjadi pusat perhatian karena kesuksesannya membangun desa dengan berbagai inovasi yang digagasnya. 

Kisah kesuksesan  Junaidi ini sampai juga di telinga Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia bahkan dipuji  dan  diajak selfie oleh Srikandi Indonesia karena kepemimpinannya yang berhasil menyulap  Desa Ponggok menjadi salah satu destinasi wisata yang mendatangkan profit yang besar.

Tentu semua pembaca penasaran dengan apa yang dilakukannya? Inovasi dan kreativitas macam apa sehingga Desa Ponggok ini terexpose dan menarik perhatian Menteri Keuangan Sri Mulyani ini? SULUH DESA menguraikan di sini sebagai referensi dan inspirasi tokoh atau kepala desa lain di negeri ini.

Seperti dilansir boombastis.com, desa ini  berkelimpahan air yang kemudian ditata dengan teknologi inovasi dan kreativitas.

Desa Ponggok  terletak di wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dan merupakan salah satu desa dalam daftar desa termiskin se-Provinsi Jawa Tengah. Hal ini dipicu oleh rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya angka pengangguran. Kondisi ini menyebabkan  Desa Ponggok tertinggal dari desa-desa di sekitarnya. Namun, kondisi ini berubah dengan  semakin berkembangnya wilayah yang berlimpah air tersebut.

Baca Juga:  Covid-19, Tekad Pemerintah NTT dan Tanggung Jawab Media

Dibawah kepemimpinan Mulyono,  pendapatan desa mencapai angka miliaran.

Mulyono ternyata cerdas memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi segala potensi yang ada di desanya dalam format gambar dan video. Salah satu potensi unggulannya adalah wisata air. Ternyata ini menjadi magnet yang mampu menarik para wisatawan dari berbagai daerah berkunjung ke desanya.  Upayanya ini  berimbas pada peningkatan pendapatan desa Ponggok, yang  sebelumnya hanya berkisar ratusan juta, kini menjadi milyaran rupiah.

Menurut catatan  tempo.co, Desa Ponggok merupakan desa yang baru mandiri. Pertumbuhannya menggeliat pada tahun 2009. Pendapatan desa dalam kurung waktu 3 tahun meningkat 50 kali lipat (dari Rp 211 juta pada 2013 menjadi Rp 10,3 miliar pada 2016). Tentu saja, peningkatan pendapatan desa yang sangat signifikan ini merupakan capaian yang luar biasa Desa Ponggok dibawah kepemimpinan Mulyono.  Bermula dari sebuah desa miskin, kini berubah wujud desa yang memiliki daya magnetis terhadap  wisatawan luar daerah.

Baca Juga:  Kampung Tradisional Maghilewa (3)

Atas prestasi Mulyono memimpin Desa Ponggok,  Menteri Keuangan RI Sri Mulyani memujinya dan bakal mengajaknya ke Eropa.

Pujian itu pantas dituai oleh Kades Mulyono. Bahkan Sri Mulyani mengajaknya berswafoto. Keberhasilannya ini tak membuat dirinya pongah, Mulyono justeru mengucapkan syukur atas anugerah Tuhan yang memberikan Desa Ponggok berupa potensi air yang luar biasa melimpah. Inovasi dan kreativitas tak berarti apa-apa jika tanpa ketersediaan air yang diberikan Tuhan ini.

Karena prestasi itu pula, Sri Mulyani ingin mengajak Kepala Desa Ponggok keliling Eropa tepatnya  ke negara-negara Nordic di Eropa Utara dan Atlantik Utara sehingga ia  belajar bagaimana membuat kebijakan jangka panjang demi kemajuan masyarakatnya. Pengalaman itu pula yang dapat  memberikan gambaran baginya untuk  membuat kebijakan  atau RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) yang berorientasi pada kemakmuran bersama.

Lantas, apa kiat-kiat Mulyono menyulap Desa Ponggok menjadi desa makmur? 

Seperti dilansir oleh boombastis.com yang dikutip dari kumparan.com dari kumparan.com, ada 4 hal yang ia terapkan oleh Kades Junaedi, yakni tata ruang perencanaan yang matang, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Sumber Daya Manusia (SDM), dan ilmu teknologi. Empat strategi Kades Junaedi  berjalan beriringan dan saling menopang satu sama lain.

Baca Juga:  Serah Terima RT Gadukan Utara - Surabaya, Warga Diminta Bekerja Sama

Strategi tata ruang akan melahirkan dan mewujudkan visi dan misi yang baik dan terstruktur jika dikelola secara matang. Kedua,  Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)  berguna untuk mengelola sektor keuangan yang mampu meningkatkan perekonomian warga yang bergerak di sektor pertanian, peternakan, perikanan dan UKM. Ketiga, Strategi diatas harus didukung dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal. Tenaga  yang ada diberdayakan melalui pendidikan dan pelatihan. Terakhir, apapun strategi harus memanfaatkan  teknologi canggih  untuk  memudahkan pekerjaan dan meningkatkan kinerja pula mempercepat pembangunan desa.

Pencapaian Kades Mulyono patut diapresiasi. Ia tak hanya berhasil memakmurkan masyarakatnya, inovasi yang dilakukannya memberikan nilai lebih value added) pada desa yang kini menjadi sebuah desa wisata. Kisah Kades Mulyono ini kiranya menginspirasi seluruh Kepala Desa di Indonesia, agar cita-cita rakyat adil dan makmur dimulai dari desa.  Desa makmur, bangsa pun makmur. (rd/rd)